Gunung Kerinci, Pendakian ke Atap Pulau Sumatera

Berawal dari  perjalanan panjang mendaki Gunung Tambora tahun lalu, terbersitlah wacana untuk menapaki Gunung Kerinci. Gunung tertinggi di Sumatera dengan ketinggian 3.805 mdpl ini juga merupakan gunung vulkanik tertinggi di Indonesia.

Akhirnya dengan percaya diri Pak TS (Hafit) menyerukan wacana dan ide untuk menapaki Gunung Kerinci. Ide tersebut disambut baik oleh teman-teman yang lain. Meskipun masih banyak yang meragukan diri untuk ikut serta, namun keinginan untuk menyambangi Puncak Indrapura tetap ada. Perjalanan menapaki Gunung Kerinci akan menjadi perjalanan pertama AWASPALA menapaki bumi Andalas. Target anggota team sebanyak 8 orang, menyesuaikan dengan kapasitas mobil yang akan kita gunakan. Kami berencana memulai perjalanan dari Padang menuju Desa Kersik Tuo sehingga akan menempuh perjalanan lintas Provinsi.

Pada bulan Januari 2016, Perusahaan tempat Hafit bekerja mengadakan suatu event yang disebut Godrej Indonesia LOUD 2016. Event ini diselenggarakan perusahaan untuk memfasilitasi karyawan yang mempunyai sebuah mimpi dan berharap untuk diwujudkan. LOUD sendiri merupakan singkatan dari Live Out Ur Dream. Tentu saja Hafit tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Disusunlah proposal mimpinya yaitu Mendaki Gunung Vulkanik Tertinggi di Indonesia, Gunung Kerinci.

Pucuk dicinta, ulampun tiba. Peribahasa itu layak menggambarkan perasaan Hafit saat ini. Dia menjadi salah satu pemenang dari Godrej Indonesia LOUD 2016. Dan hadiah dari event ini dipergunakan untuk keperlukan pendakian kami. Hitung-hitung dapet sponsorship 🙂 .

Pak TS, Memenangkan Godrej Indonesia LOUD 2016

Jumlah anggota team pun semakin bertambah, yang awalnya dari 8 orang kini beranak pinak menjadi 16 orang. Woow, bertambah hingga 2 kali lipat. Kesempatan langka ini memang harus dipergunakan sebaik-baiknya. Dikarenakan dana hadiah dari event ini hanya cukup untuk mengcover 5 orang (yang bener-bener gratis), akhirnya diputuskanlah kelebihan biaya perjalanan akan kita tanggung secara share cost.

Persiapan

Seperti pendakian kami yang lain, pendakian kali ini pun sangat butuh persiapan. Dikarenakan pada pendakian kali ini kami seolah mendapatkan sponsorship, sehingga tidak hanya persiapan pribadi dan kelompok saja yang harus kami pikirkan melainkan persiapan untuk memberikan laporan kepada “pihak sponsor” juga perlu kami perhatikan. Kami berencana akan mengibarkan bendera Godrej Indonesia di Puncak Indrapura sebagai wujud terima kasih kami kepada “sponsor”.

Melakukan technical meeting sebanyak 2 kali dirasa cukup untuk membentuk “emosional bonding” di antara masing-masing personel. Karena kekompakan merupakan faktor penting dalam terwujudnya kesuksesan pendakian kali ini.

1st Technical Meeting

Kami juga sempat melakukan pendakian pemanasan ke Gunung Guntur di Garut sebagai bentuk latihan untuk menghadapi jalur Gunung Kerinci yang masuk ke kategori Hutan Hujan Tropis ini.

Pemanasan di Gunung Guntur

Perjalanan itu Dimulai

Rabu, 4 Mei 2016 merupakan awal perjalanan kami keluar dari rumah masing-masing dengan tekad yang kuat untuk mendaki atap Sumatra ini. Dengan rahmat Allah SWT dan doa restu dari orang tua, perjalanan ini diharapkan akan berjalan lancar dan sukses.

Sebulan sebelum keberangkatan kami mendapatkan informasi bahwa kondisi Gunung Kerinci sedang tidak sehat. Batuk melanda gunung berapi yang memang masih aktif ini. Statusnya pun Waspada. Pendakian hanya diijinkan sampai Shelter 2. Bahkan karena kondisinya yang kian memburuk, pendakian gunung sempat ditutup selama seminggu. Namun, kondisi gunung berangsur membaik dan pendakian gunung pun mulai dibuka. Alhamdulillah.. senangnya kami 🙂

Kami memutuskan lokasi Bandara Internasional Minangkabau di Padang sebagai meet point. Hal ini dikarenakan keberangkatan kami dari Jakarta secara terpisah. Harga tiket pesawat yang cukup menguras budget membuat kami untuk mensiasati keberangkatan kami agar sesuai dengan budget. Keberangkatan dibagi menjadi 3 kloter, kloter 1 jam 16.00 WIB, kloter 2 jam 18.55 WIB, dan kloter 3 jam 20.30 WIB.

16 Personel Kerinci Team
Personel Kerinci Team

Sekitar jam 24.00 WIB kami mulai beranjak dari Bandara Internasional Minangkabau membelah jalan kota Padang dengan menggunakan mobil travel berkapasitas 16 orang. Perjalanan kami diperkirakan akan ditempuh selama kurang lebih 8 jam.

11-05-2016 15-30-05
Rute Perjalanan Darat dari Bandara Internasional Minangkabau menuju Kecamatan Kayu Aro

Home Stay Paiman, Pondok Hunian Para Pendaki

Kamis, 5 Mei 2016 jam 08.00 WIB kami tiba di Desa Kersik Tuo Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci. Kami singgah di sebuah homestay yang sudah cukup termahsyur di kalangan pendaki Gunung Kerinci. Homestay Paiman begitu mereka menyebutnya. Homestay Paiman merupakan tempat janjian kami dengan porter  yang sudah sebulan lalu berkomunikasi dengan Boim. Namun hingga 1 jam kami menunggu, kami tak jua melihat batang hidungnya. Sang porter tersebut juga sulit dihubungi. Akhirnya dengan bantuan Mas David, salah satu pengurus homestay kami dicarikan porter lain. Dan kami dikenalkan dengan 2 orang porter yang ternyata mereka ini adik kakak, Jupriadi (yang selanjutnya kami memanggilnya dengan sebutan Juple) dan Dicky, sang adik.

Hafit & Juple
Hafit & Juple

Setelah kami mendapatkan porter, selanjutnya kami bersiap-siap packing untuk memulai pendakian. Seluruh tenda yang kami bawa diberikan ke porter. Meskipun menggunakan 2 porter, kami tidak lantas bermanja-manja dengan memberikan seluruh barang bawaan kami. Kami sadar, 2 porter tidak cukup untuk mengemban beban kami yang 16 orang. Dan dengan membawa keperluan pribadi kami sendiri dapat meminimalisir kejadian yang tidak diiginkan, misalnya jika sewaktu-waktu kami membutuhkan obat di tengah perjalanan tapi porter tidak selalu mendampingi kami. Tujuan kami ke sini bukan untuk bermanja-manja, tapi mencoba menaklukan diri sendiri.

Penampakan Gunung Kerinci dari Home Stay Paiman
Penampakan Gunung Kerinci dari Home Stay Paiman

Jam 11.00 WIB kami diantar oleh Pak Karto dengan mobilnya menuju Pintu Rimba, Pos pertama pendakian kami. Dikarenakan mobilnya yang hanya mampu mengangkut 8 orang, akhirnya kami dibagi menjadi 2 kloter. Sebelum memulai pendakian kami diwajibkan untuk melapor di Pos Pendaftaran yang disebut R10. Dengan biaya registrasi Rp 5.000,- per orang per hari kami dapat memasuki kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ini.

Hutan Hujan Tropis di Gunung Kerinci

Jam 12.00 WIB kami memulai pendakian kami melewati pintu rimba, batas antara perkebunan warga dengan hutan. Di awal kami cukup terkejut dengan kondisi tanah yang begitu lembutnya. Empuk dan becek. Dikarenakan hutan di Gunung Kerinci ini termasuk ke dalam hutan hujan tropis, sehingga curah hujan di hutan ini cukup tinggi. Hal ini membuat jalur pendakian yang akan kami lewati merupakan lumpur yang berasal dari tanah yang basah. Kita harus berhati-hati dalam melalui jalur ini, apabila salah memilih jalan bisa-bisa sepatu kita akan semakin berat karena tanah yang menempel di sepatu.

Dalam jalur pendakian gunung kerinci ini dibagi menjadi 3 Pos dan 3 Shelter sebagai tempat peristirahatan kemudian tanah tertingginya adalah Puncak Indrapura di ketinggian 3.805 mdpl. Target kita hari ini adalah sampai Shelter 2, selanjutnya mendirikan tenda dan akan memulai summit pada malam harinya.

_MG_0007edit
16 Orang Personel Kerinci Bersiap untuk Memulai Pendakian

Pos-pos di Gunung Kerinci

Perjalanan dari pintu rimba menuju pos 1, yaitu Pos Bangku Panjang kami tempuh selama kurang lebih 45 menit. Kondisi tanah yang landai cukup membuat speed jalan kami cepat. Pos Bangku Panjang sendiri berada di ketinggian 1.890 mdpl. Pos ini ditandai dengan bangku yang panjang berbetuk segi empat terbuka di salah satu sisinya dan sebuah gubug sebagai tempat berteduh bila turun hujan. Di pos ini tidak terdapat sumber air.

Perjalanan di lanjutkan menuju Pos 2. Pos dengan sebutan Batu Lumut ini berada di ketinggian 2.010 mdpl. Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 dapat ditempuh kira-kira selama 45 menit. Jalur dengan undakan dari akar pohon cukup membuat ritme tarikan dan hembusan nafas menjadi cepat. Di pos 2 tidak terdapat gubug, namun kondisi pos 2 berada di tanah datar sebelum dan setelah tanjakan berakar. Di pos ini terdapat sumber air namun untuk sampai di sana kita harus turun ke bawah. Konon katanya sumber air di pos 2 ini masih sering dilalui oleh harimau Sumatra.

Papan informasi jalur pendakian ada di setiap pos
Papan Informasi Jalur Pendakian ada di Setiap Pos

Sudah cukup beristirahat di pos 2, selanjutnya kita berjalan menuju pos 3. Jalur pendakian menuju pos 3 sudah mulai menanjak. Tanjakan berakar ini mulai licin karena tanahnya yang diguyur hujan. Menggunakan tracking pole cukup disarankan. Atau apabila sulit menggunakan tracking pole salah satu tangan dapat digunakan untuk menjangkau ranting-ranting pohon sebagai bantuan dalam jalan menanjak ini. Pastikan ranting yang dipegang cukup kuat sehingga mampu menerima beban badan kita. Kurang lebih dengan waktu tempuh 1 jam kita sudah sampai di pos 3. Pos 3 ini diberi nama Pondok Panorama dengan ketinggian 2.225 mdpl. Di pos 3 juga terdapat sumber air.

Selepas pos 3, jalur pendakian di hadapan kami semakin menanjak. Tempat pemberhentian selanjutnya adalah Shelter 1. Kami pantang menyerah meskipun hujan membasahi tubuh kami, namun kami tetap berusaha untuk mencapai target kami. Camp di Shelter 2. Perjalanan menuju Shelter 1 dapat ditempuh dengan kurun waktu kurang lebih 1.5 jam. Shelter 1 berada di ketinggian 2.505 mdpl. Area shelter 1 cukup menampung sekitar 30 tenda dengan sangat padat.

Saya yang berperan sebagai sweeper sudah mendapat info dari teman-teman saya kalau mereka sudah tiba di Shelter 1 terlebih dulu. Karena hari sudah semakin sore, kami putuskan untuk camp di Shelter 1 saja. Memaksakan diri ke Shelter 2 akan melewatkan waktu malam dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam karena jalur pendakian dari Shelter 1 ke Shelter 2 yang panjang, menanjak, dan sempit.

Bermalam di Shelter 1 membuat kami merubah rencana kami, setelah berdiskusi plus dan minusnya maka diputuskan untuk keesokan harinya dilanjutkan menuju shelter 3 dan start summit dari shelter 3.

Jalur Air Nan Sempit, Tantangan menuju Shelter 3

Jumat, 6 Mei 2016 perjalanan kami akan berlanjut. Rencana kami hari ini adalah dengan melanjutkan perjalanan seharian ini menuju Shelter 3 dan akan memulai summit di malam harinya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari Juple, kalo jalur dari Shelter 1 ke Shelter 2 yang paling panjang sedangkan jalur dari Shelter 2 menuju Shelter 3 kami akan dihadapi dengan jalanan yang sangat sempit, terjal dan menanjak. Hal ini membuat Pak TS membuat keputusan untuk meninggalkan sebagian peralatan kami di Shelter 1 dan membawa hanya kebutuhan untuk bermalam di Shelter 3. Sehingga untuk porter, hanya Juple yang ikut kami sampai Shelter 3 untuk membantu membawa perlengkapan logistik kami sedangkan Dicky menunggu di Shelter 1 sambil menjaga peralatan kami yang lain. Untuk para wanita disarankan hanya membawa perlengkapannya di dalam daypack dan untuk personel pria tetap membawa carrier namun dengan muatan sesuai kebutuhan yang digunakan nanti.

Jam 09.00 WIB kami memulai langkah kami meninggalkan Shelter 1 menyusuri jalan menanjak dengan kontur tanah yang sangat empuk. Beberapa kali saya perhatikan langkah teman-teman saya terganggu karena sepatu yang melekat erat dengan tanah. Hal ini membuat kami mengeluarkan tenaga ekstra untuk melepaskan sepatu dari jerat-jerat tanah becek itu.

Akhirnya kami tiba di Shelter 2 yang berada di ketinggian 3.056 mdpl. Shelter 2 berada setelah kami menempuh tanjakan yang membuat kami mengampun-ampun. Hanya terdapat 1 gubug yang bisa diisi oleh 2 tenda saja di bawahnya, sedangkan untuk camp area kita harus berjalan menurun ke sebelah kiri. Di situ dekat dengan sumber air. Oiya, air di Gunung Kerinci ini masih bercampur dengan lumpur. Disarankan untuk minum sebaiknya membawa perbekalan yang cukup. Air dari sumber air dipergunakan untuk bersih-bersih dan memasak saja.

Jam menunjukkan angka 12.00 WIB, dan menyarankan kami untuk beristirahat. Kami di sini hanya saya, Hafit, dan Centhak. Kami sejak kemarin menjadi tim sweeper sehingga berada di belakang. Teman-teman kami sudah beranjak lebih dulu melewati Shelter 2 ini.

Kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Shelter 3. Terdengar berkali-kali pendapat teman kami mengenai jalur air yang mereka lewati dari HT. Herman berkali-kali memaparkan kondisi jalur di depan.

Dan benar, ketika kami bertiga terus berjalan dan itu adalah tanjakan yang tiada ampun. Semakin ke atas semkin menyempit sehingga kami memilih untuk menyusuri pinggiran yang ditumbuhi tanaman cantigi sebagai bantuan untuk melangkah. Tak bisa dibayangkan apabila saat ini turun hujan, pasti medan ini akan sangat licin.

Jalur Air Menyapa Kami dalam Perjalanan Menuju Shelter 3
Jalur Air Menyapa Kami dalam Perjalanan Menuju Shelter 3

Akhirnya kami tiba di Shelter 3, yang berada di ketinggian 3.291 mdpl. Shelter 3 berada di tempat terbuka dengan di sekitarnya tertanam pohon-pohon cantigi. Dari Shelter 3 sudah dapat dilihat Puncak Indrapura, puncak Gunung Kerinci yang begitu gagah. Dari puncak masih dapat disaksikan hembusan asap berwarna kuning yang menandakan kalau kerinci menghembuskan asap belerang.

Hembusan Asap Berwarna Kuning dari Puncak Kerinci
Hembusan Asap Berwarna Kuning dari Puncak Kerinci

Beberapa kali juga hujan abu menghampiri kami. Diikuti dengan tetesan air dari langit. Malam datang, intensitas tetesan air semakin sering.

Summit Attack

Jam 03.00 WIB, Rendra sudah dengan semangat membangunkan para penghuni tenda. Seruannya memaksa yang lain untuk segera bangun dan bergegas untuk summit. Menyiapkan fisik dan peralatan untuk summit hari ini ternyata tidak butuh waktu sebentar, satu jam dihabiskan untuk prepare semuanya. Team akhirnya siap, puncak Gunung Kerinci kami datang.

Jam 04.00 WIB kami mulai berjalan ke atas. Di atas sudah terlihat barisan headlamp pertanda sudah ada pendaki lain yang memulai untuk summit terlebih dahulu. Waktu yang akan kami tempuh hingga sampai di puncak gunung ini adalah selama 3 jam perjalanan mendaki. Jalur yang dipenuhi kerikil-kerikil kecil membuat pijakan kami kuat. Kontur tanah berpasir yang padat menjadikan langkah kami pasti. Beberapa kali ditemukan tanjakan yang memaksa kami menggunakan kedua tangan kami untuk meraih tanjakan demi tanjakan.

Semakin menanjak semakin kami temui bebatuan yang cukup besar namun padat. Membuat kami harus berhati-hati apabila menginjak batu tersebut, khawatir batu tersebut bergoyang ketika kami pijak.

Puncak, Kita akan Bertemu
Medan Berbatu yang Kita Lalui dalam Perjalanan Menuju Puncak

Kami sampai di Tugu Yudha, tugu memoriam para pendaki yang hilang di Gunung Kerinci. Dari ufuk timur sudah terlihat matahari mulai menampakkan dirinya. Melukiskan warna oranye di langit. Terlihat dari kejauhan Danau Gunung 7 yang terperangkap 7 gunung. Indah sekali pagi ini. Semesta begitu mendukung, karena cuaca cerah menemani kami sepanjang summit.

Akhirnya tiba juga di puncak tertinggi Gunung Kerinci. Kami semakin dekat dengan asap kuning itu. Menurut porter, arah angin tidak menuju ke jalur pendakian sehingga gunung kerinci aman untuk didaki. Meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati karena hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.

Top of Mt. Kerinci
Top of Mt. Kerinci
Kawah Gunung Kerinci yang Berasap
Kawah Gunung Kerinci yang Berasap

Kami sangat bersyukur dapat mencapai puncak dengan jumlah personel lengkap. Cuaca yang cerah sangat menghidupkan semangat kami. Tak henti-hentinya kami ucapkan syukur karena mampu berada di tanah tertinggi pulau Sumatera ini. Bahkan sebagian dari kami sempat ada yang meneteskan air mata saking terharunya.

Pengibaran Tiga Bendera di Puncak Kerinci
Terima Kasih Godrej Indonesia
Terima Kasih Godrej Indonesia
AWASPALA Yaeee...
AWASPALA Yaeee…
Bersama Pendaki dari Malaysia
Bersama Pendaki dari Malaysia

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami panjatkan kepada Allah SWT karena dengan ridho dan karunianya kami dapat berdiri di sini.
Juga kepada orang tua kami, rekan-rekan kami yang lain di AWASPALA dan semua pihak yang telah mendukung kami.

Juga Terima Kasih kepada Godrej Indonesia, dan ini persembahan dari Kami

Terima Kasih Indonesia, Bumimu mengajarkan kami banyak hal

Sampai jumpa di trip berikutnya 🙂

 

arihanda

3 thoughts on “Gunung Kerinci, Pendakian ke Atap Pulau Sumatera”

Leave a Reply