Namaku AWASPALA

Namaku Awaspala. Aku lahir di Curug Panjang, 24 Agustus 2013. Pencetusku adalah 10 orang lelaki dan 2 orang perempuan yang bersama-sama melakukan pendakian ke Gunung Semeru pada Juni 2013.
Ya, aku masih bayi… Ibarat seorang bayi, aku sudah mulai merangkak walaupun kadang terjatuh dan sudah mulai bicara walaupun masih belum jelas artikulasinya. Pencetusku memeliharaku agar aku bisa terus tumbuh dan berkembang.

Unik? Iya, namaku memang unik. Menurut pencetusku, nama tersebut didapat karena seringnya diucapkan saat mereka bertemu dahan pohon rendah selama melakukan pendakian.

10 lelaki dan 2 Perempuan itu…
Mereka inilah pencetusku. Aku ada karena mereka… Takdir mempertemukan mereka dan kasih sayang mengikat kebersamaan mereka hingga mereka melahirkan aku.
Sepuluh lelaki itu adalah Hafit, Moo, Barkah, Yusuf, Yudha, Chentak, Yogi, Boim, Rohmat, dan Siswanto. Sementara dua perempuan itu adalah Lina dan Casper.
Pencetusku berasal dari berbagai kalangan; guru, karyawan, dan mahasiswa-mahasiswa yang tengah berjuang untuk meraih gelar sarjana. Dengan keahlian dan keunikan masing-masing, mereka saling melengkapi dan mewarnai. Salut untuk mereka yang di tengah kesibukannya masih menyempatkan diri mengurusku. Hmm, indahnya kebersamaan… Dan aku… aku bagaikan kloning dari keunikan–keunikan mereka.

Hafit… Jika diibaratkan sedang menciptakan seorang anak, dialah yang paling semangat dalam prosesnya. Haha… Piss. Karena dialah yang paling banyak memberikan sumbangsih atas kelahiranku.

Moo… Terucap dialah yang paling ganteng… (menurut salah satu pencetusku). Mendaki bersamanya tidak pernah terasa sepi bahkan banyak tawa terurai.

Barkah… Naik gunung setiap saat mungkin itu cita-citanya. Memimpikan seorang pasangan yang bisa memotivasinya untuk segera lulus kuliah kemudian menikah, ahhhgg so sweet…

Yusuf… Porter gadungan satu ini selalu memberikan jasanya secara gratissss tis tis… cuma-cuma, tidak peduli kondisi tubuhnya memungkinkan atau tidak. *Piss*

Yudha… Yang paling senior di antara pencetusku. Bijaksana dan menjadi figur bagi yang lain.

Yogi… Wajahnya paling tidak matching dengan hobi mendaki. Setiap saat rambutnya selalu “lancip” ke atas layaknya bulu landak *haha… senangnya bisa nge-bully di sini*

Boim… Cekatan pada saat genting. Rasanya aman mendaki bersamanya. Dapat diandalkan di posisi atau di situasi apapun.

Siswanto… Diam, tidak banyak bicara, tapi mau berbagi dengan yang lain kalau memang diperlukan.

Rohmat… Paling hobi naruh cabe di setiap kue ulang tahun dan dengan senang hati melihat temannya kelojotan ngegigit cabe rawit. Jadi harap WASPADALAHH!!

Chentak… Paling muda di antara semuanya. Siap membantu dan menolong di situasi dan kondisi apapun. *happy to have you in team*

Lina… Perhatian dan tidak banyak bicara selama tidak diperlukan. Dialah ibundaku.

Casper… Tidak percaya pendaki satu ini penggemar K-Pop. Jago menulis dengan adanya dunia khayal dalam otaknya. Tidak suka mengeluh.

Curug Panjang…
Malam itu, 24 Agustus 2013, sekitar jam 8, 10 lelaki dan 2 perempuan itu bersiap untuk merayakan ultah salah satu dari mereka. Malam itu mereka berjanji untuk selalu ada buatku, pada saat susah dan senang *sweet*. Memakan cabe disepakati sebagai simbolisasi komitmen mereka akan hal ini. Tadaaa, lahirlah aku, AWASPALA. Baju yang mereka kenakan malam itu bertuliskan namaku, hmm… begitu besarnya rasa bangga mereka kepadaku…

Aku sadar, aku tidak mungkin dilahirkan begitu saja tanpa adanya komitmen dari mereka untuk selalu menjagaku.

Bagaimana Aku…
Setelah kelahiranku, mereka berusaha mengenalkan aku ke dunia luar. Di antaranya dengan mem-posting catatan perjalanan mereka pada situs-situs jejaring sosial. Pada setiap puncak gunung yang berhasil mereka tapaki, mereka mengibarkan bendera bertuliskan namaku.
“Kita Buat PENMAS!!” Owowow… Lagi-lagi Hafit membuat ide untuk membesarkan namaku. Yang lainnya pun meng-IYA-kan dengan semangat. Semua mendukung acara tersebut. Ragu sempat terlintas karena menjelang hari H peserta baru beberapa orang saja. Akan tetapi menjelang keberangkatan tiba-tiba daftar peserta semakin padat merayap layaknya ruas jalan di Jakarta. Bahkan beberapa peserta sempat menjadi penghuni Waiting List. Not bad, kan untuk sebuah PENMAS yang pertama, kan??

Beberapa peserta sempat bertanya-tanya, “Apakah Awaspala terdiri dari para pendaki senior?” “Tentu saja TIDAKKK!!!” jawab salah satu dari tim. Memang beberapa IYA, tapi beberapa masih dalam tahap belajar. Rasa takut sempat menghinggapi beberapa peserta yang dalam pendakian itu merupakan pendakian pertama mereka.

Gunung Cikuray, tempat pelaksanakan PENMAS pertama atas namaku. Sempat tidak percaya mereka bisa mengadakan PENMAS dengan jumlah peserta 28 orang yang boleh dibilang lumayan banyak. Kedua puluh delapan peserta ini berasal dari berbagai usia dan kalangan. Pendakian ini adalah awal kelahiran adikku, AWASPALA Gen II.

Liputan6.com…
Hari itu… malam itu… adalah malam yang panjang bagi anggota tim, “AWASPALA masuk liputan6.com, cek di bla,bla,bla!!” Menjelang tengah malam melalui jejaring sosial lagi-lagi Hafit melakukan gebrakan. Dia memberitahukan bahwa aku masuk liputan6.com, yeyeyelalala, senangnyaa!! Mereka begitu berusaha membuatku dikenal dan aku bangga dilahirkan oleh mereka. Wow… semua anggota terkejut, terkesan, sekaligus tidak percayaaaaa…..*lebayyy ahahha*
Kejadian ini ‘membakar’ semangat mereka. Ide untuk membuat kantor sekretariat dan website pun dicetuskan. “Kita sewa ruko di bla,bla,bla” Sambutan yang muncul beragam dan semuanya bernada positif, “Jangan, di deket rumah guweh aja”, “Patungan sekian-sekian bisa sewa ruko”. Akhirnya, diputuskan untuk membuat web lebih dahulu dengan alamat awaspala.com.

“Casper, mana profil tim?” ibundaku bertanya.
“Sudah, Mamih, tinggal di-post, cuma tunggu konsultasi aja,“ jawab Casper.
Kemudian Ibunda menghubungi Yudha untuk mem-post-kan profil yang sudah dibuat Casper. “Jangan lupa ya, Mas?!” kata Ibunda, tentu saja penerima pesan tersebut tak berani menolak *haha azas manfaat*

“Web udah selesai, saya pulang dulu,” kata Hafit ke Ibunda. Tanggung jawab mengelola web memang kemudian dipegang oleh Hafit. Waktu itu sudah hampir jam 10 malam, Ibunda kembali bertanya, “Masih di kantor??” “Iya, saya lembur buat urus web,” jawab Hafit. “Habis di rumah internetnya ampun-ampunan.” Betapa banyak yang sudah dilakukannya untukku.

Dan inilah webku. Masih jauh dari kata sempurna memang. Tapi ini sudah merupakan kerja keras para peng-cloning-ku. Di sela-sela kesibukan, mereka menyediakan waktu untuk mengisi dan membuat web ini lebih berwarna-warni secara GRATIS!! tis,tis,tiss…

Nah, tunggu cerita kelahiran adikku yaa, katanya mereka lucu-lucu…

oleh : Lina

AWASPALA 2-horz

Posted in Uncategorized.

One Comment

  1. Pingback: Keluarga Awaspala - AWASPALA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *