Catper akhir Mei 2014 :Sindoro – Prau

Perencanaan

Berawal dari rencana pendakian Argopuro yang gagal disebebkan kesulitan mendapatkan cuti pada hari yang dibutuhkan, kami berdua menyatakan resign dari tim pendakian Argopuro dan memilih melakukan perjalanan ke jantung pulau Jawa, Sindoro dan Prau.

Pada awalnya kami memiliki target hanya melakukan pendakian puncak Prau dan Puncak Sikunir sebagai bonus, tapi aku mengusulkan kenapa kita tidak mencoba puncak Sindoro yang letaknya juga di sekitar Dieng, Wonosobo. Akhirnya disepakati untuk melakukan pendakian tiga puncak sekaligus, yaitu Prau, Sikunir, dan Sindoro.

Selanjutnya aku membuat Itinerary sebagai rencana perjalanan agar jadwal kami padat dan seefisien mungkin. Awalnya Itinerary dimulai dari Puncak Sikunir, Prau, lalu Sindoro, tapi aku pikir kami akan kelebihan waktu setelah turun di Sindoro, oleh karena itu perjalanan dirubah terbalik, sehingga Sindoro diraih terlebih dahulu.

Setelah browsing ke sana ke mari mencari alternatif yang terbaik, kami yang senang menggunakan kereta api akhirnya membeli tiket Kutojaya Ps. Senen 05:30 – Kutoarjo 13:07, seharga @Rp. 40.000. Kami berencana turun di Kebumen dan akan ke Wonosobo melalui jalur Wadaslintang.

Keberangkatan

Pagi itu perjalanan dimulai, Rabu 28 Mei 2014, jam 04:00. Aku ke Stasiun Senen menggunakan Sepeda Motor karena harus tiba di sana dini hari, sedangkan rumah aku di Ciputat. Dari informasi di kalangan pengguna KA dari Ps. Senen, di sana ada tempat parkir inap, yaitu di Masjid Al Arif dengan tarif Rp. 5.000,- per malam. Lumayan dari pada aku parkir di Stasiun Senen yang dihitung kumulatif per jam Rp. 1.000,-, sedangkan aku kemungkinan akan menitipkan motor selama 5 hari. Di sana Cinta my lovely girl sudah tiba dari tadi, diantar ojek katanya. Rumahnya di Sunter tidak sampai setengah jam dari Ps. Senen.

Kereta Api sampai di Kebumen On Time, kami berhenti di Stasiun kecil itu dan meneruskan naik becak motor ke Terminal Bis Kebumen, seharga Rp. 20.000. Di sini kami harus meneruskan perjalanan ke Terminal Prembun untuk mendapatkan angkutan ke Wonosobo. Tapi karena kami belum makan siang, maka kami istirahat sejenak makan soto Kebumen di warung seberang terminal ini.

nyobain Monopod di Terminal Prembun

Selanjutnya kami naik mikrobis jurusan Terminal Prembun, dari Terminal Kebumen kami mulai jam 13:30, sesampai di Prembun sekitar jam 14:00. Di sana sudah ada Bis ¾ jurusan Wonosobo, tapi baru ada 3 penumpang. Bis ini menunggu penumpang hingga hampir satu jam. Akhirnya kami berangkat juga ke Wonosobo melalui jalur Wadaslintang, perjalanan ini memakan waktu hampir 3 jam, karena di samping Bis ini masih mencari-cari penumpang di awal perjalanan, di sepanjang perjalanan juga beberapa kali ada antrian karena perbaikan jalan.

Kami tidak sampai terminal Wonosobo, tapi di pertigaan jl. S.Parman ke arah Kreteg, karena tujuan kami adalah Balai desa Kledung (Gerbang Pendakian Sindoro, jalur Kledung). Kenapa kami memilih jalur Kledung, itu karena kami ingin melakukan pendakian lintas ke Utara dan turun melalui jalur Tambi, Sigedang. Minimnya informasi yang kami punya mengenai transportasi ke Kledung membuat kami tertahan lama di sini. Kami juga istirahat sebentar makan Bakso di sini sambil bertanya-tanya transportasi ke arah Kedung, Temanggung. Ternyata bis yang dimaksud sudah menunggu di sana, yaitu bus jurusan Purwokerto – Semarang. Kami putuskan naik bis tersebut, tapi sayang sekali bis ini ngetem setengah jam lebih di pertigaan ini (terminal bayangan). Karena hari sudah sore menjelang maghrib, maka mikrobis ke arah Kledung agak jarang, terpaksa kami naik bis ini yang akhirnya berangkat pas Maghrib. Perjalanan normal dari sini ke Kledung sebenarnya Cuma seperapat jam, tapi karena bis ini terus berjalan lambat sambil cari penumpang, akhirnya kami sampai di Balai desa Kledung menjelang Isya.

Sesampai di sana kami mendaftarkan diri di pos pendaftaran dan meninggalkan FC KTP, dan tidak lupa menempelkan stiker Awaspala di sana.

Di sini butuh ilustrasi foto

Target Waktu Itinerary yang jauh melenceng

Sebenarnya target awal kami adalah Pos 2 atau Pos 3 di Sore itu untuk menginap, tapi sejak di terminal Prembun kami sudah patah arang, karena waktu yang terlalu banyak terbuang. Penyebab lain sehingga kami tidak menepati Itinerary adalah:

  1. Kami tiba sudah dalam keadaan gelap, dan tidak nyaman bagi kami untuk meneruskan mendaki
  2. Kami buta jalur ke Tambi, dan di Pos Pendaftaran, kami tidak mendapatkan info yang dapat diandalkan agar kami bisa sesuai rencana melakukan pendakian lintas, kami disarankan kembali ke Pos ini saat turun.
  3. Tidak ada satupun tim pendaki lain yang akan melakukan perjalanan lintas sebagai “panduan” kami nantinya.
  4. Dalam kenyataannya, pendakian dari Pos 2, ke Pos 3, dan juga ke Pos 4, apalagi ke Puncak sangat berat, dan tidak terbayangkan jika kami tetap melakukan pendakian lintas dengan membawa ransel kami ke Puncak

Malam itu kami terpaksa menginap di Basecamp Kledung, kami masih kenyang dan hanya memasak air dan merebus telur puyuh untuk pendakian besok. Basecamp Kledung termasuk bersih, karena letaknya di balai desa Kledung, hanya saja tempat MCK ada satu buah, dan sangat tidak nyaman untuk pengunjung yang singgah di sana.

sampai di Kledung

Pendakian

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun, seperti biasa masak air untuk kopi, dan melakukan packing ulang. Kami sarapan dari sate yang dijajakan ibu-ibu yang biasa datang ke balai desa ini, seporsi lontong sate di makan berdua. Kami juga membeli dua porsi lagi untuk makan siang nanti.

Sesuai rencana, kami naik ojek ke Pos 1, karena kami memang ingin menghemat tenaga, karena masih ada perjalanan selanjutnya yang memerlukan banyak tenaga. Selain itu, kami pikir, mumpung ada ojek, kenapa tidak. Sampai di Pos satu jam 7:20, sebuah pos yang tidak jelas tanda-tandanya, hanya sebuah selter yang dibuat tukang Ojek, dan memang tertulis pangkalan Ojek di sana, selanjutnya kami menapaki jalur yang masih landai ke Pos 2.

Pos 1 ke Pos 2 kami raih hanya dalam waktu 1 jam, itu pun kami sempat narsis di jembatan kecil sebelum jalur yang ada turunanannya. Jalur yang kami lalui hanya berdua saja itu, karena kamilah pendaki pertama yang memulai di hari itu, masih ditumbuhi pohon-pohon yang lumayan besar. Sesekali perdu memayungi kami terutama ketika jalananan menurun, aku hitung sampai tiga kali sebelum sampai di Pos 2.

Jembatan Kecil sebelum ke Pos 2

Pos 2 adalah sebuah selter yang masih kokoh berdiri dibangun menggunakan kayu dan atap terpal. Kami aagak lama di sana, sekitar seperapat jam berfoto-foto dan belajar menggunakan monopod yang dipersiapkan Cinta jauh-jauh hari.
Pos 2 ke Pos 3

narsis di Pos 2

Perjalanan ke Pos 3 adalah pendakian yang di luar dugaan kami, karena sebelumnya kami pikir, Sindoro adalah seperti gunung Gede atau, paling tidak Cikuray. Akan tetapi kami mulai berjuang agak keras untuk sampai di Pos 3. Jalur pendakian sudah menanjak terus tanpa bonus, dan cuaca Sindoro memang panas, sedangkan trek paling enak 45 derajat, sisanya lebih menyiksa, sebagian besar batu-batu walaupun masih ada tanah dan jalur rumput-rumput.

Jam 11 kurang kami baru sampai di Pos 3, berarti satu ¾ jam kami melalui jalur ini. Di pos 3 kami membuka bekal lontong dan sate yang kami bawa dari pos pendaftaran bersama telor puyuh rebus sebagai asupan protein kami. sekitar setengah jam kami istirahat di sana, karena kami masih ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan, padahal aku sudah meyakinkan bahwa nanti kita bisa sampai di hutan Lamtoro setelah Pos 4 untuk ngecamp. Tapi pasangan mendaki aku memang memiliki kekhawatiran tersendiri mengenai hal-hal mistis. Padahal menurut perhitungan aku, kami akan kesulitan mencapai puncak bila harus bertenda sejauh ini (di Pos 3).

Puncak Sumbing dari Pos 3

Di selingi sholat, kami masih menunggu di pos 3, siapa tahu ada pendaki lain yang datang dan akan membuka tenda di atas pos 3. Di pos 3 sendiri waktu itu sudah ada beberapa tenda, hanya saja mereka sedang berencana turun. Akhirnya jam satu siang tidak ada pendaki lain yang naik, maka diputuskan membuka tenda di pos 3. Ini dia momen yang aku nikmati, membangun tenda berdua, seperti membangun “rumah” untuk kami berdua. Tenda pun selesai, tapi baru saja aku mau merapikan barang-barang ke tenda, ada 3 pendaki yang baru sampai di pos 3, dan Cinta menyapa mereka dan bertanya: “ mas mau terus ke atas ya, mau ngecamp di atas?” Satu orang dari mereka menjawab:” kita sih secapenya aja, katanya gak boleh di pos 4, ya kalo gak di bawahnya ya di atasnya”
Cinta:”mas-mas ikut rombongan mereka aja yuuk, kita kejauhan kalo ngecamp di sini.” Dalam hati aku, “dari tadi juga aku bilang begitu”, kesel bingit baru rapi bangun tenda. Tapi memang aku juga tidak mau bertenda di sini, karena terlalu jauh ke puncak, ya aku turuti sambil kesal. Untungnya langsung dibantuin juga sama Cinta.

Tapi pertemuan dengan ketiga pendaki ini bukan sesuatu yang disesalkan, karena mereka sangat lucu-lucu. Apalagi mereka semua dari UNJ, langsung nganggap aku “senior” 🙂 . Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali, dan tim kami menjadi berlima, Aku, Cinta, Iwa, Ari, dan si imut Heru. Pendaki ini berencana melakukan pendakian Sindoro – Sumbing, yang sepanjang perjalanan meracuni kami untuk menunda ke Prau dan lebih memilih Sumbing, aku sih tergoda, tapi kan aku janji sama Cinta untuk membawa dia ke puncak Prau.

Kami masing-masing mendapat peta pendakian Sindoro di pos pendaftaran, dan bersdasarkan peta dan perkiraan waktu tempuh itulah kami mencari hutan Lamtoro. Kami memulai perjalanan dari pos 3 jam 14:00 dan waktu itu kami sudah menanjak terus, bahkan sekali kami salah jalur sehingga harus merambat seperti cicak di rerumputan. Sekitar 2 jam kami mendaki kami menemukan banyak sekali pohon Lamtoro, kami pikir kami sudah sampai di tempat ngcamp di atas pos 4 (batu tatah). Kami tidak tahu seperti apa pos batu tatah, yang pasti kami sudah lebih dari 1,5 jam seperti perkiraan maksimal pada peta.

Selanjutnya kami putuskan membuka tenda di situ yang sebenarnya masih sedikit di bawah pos 4 yang kami maksud, hal itu kami ketahui setelah esok harinya kami Summit Attack. Di sebuah tempat yang agak datar tapi banyak bergelombang karena bekas rumput, dan tempat itu cukup untuk tiga tenda, kami mendirikan tenda bersama-sama.

Jam menunjukkan setengah lima, awalnya angin bertiup sepoi-sepoi ketika kami membongkar tenda, tapi seketika kabut turun dan hawa sangat dingin bertiup. Cinta tau aja, kalau kami kedinginan. Dia segera masak air  untuk bikin teh manis. Teh manis yang masih panas kami minum sambil merapikan tenda-tenda, tapi kok rasanya tidak panas waktu itu. Segera kami menyelesaikan membangun tenda. Disertai angin aku dan Cinta akhirnya membangun tenda kami, sementara tenda Iwa dkk masih belum berdiri, angin dingin mengganggu kami, dan masalah lainnya adalah frame tenda mereka ada yang tidak pas. Dengan dipaksakan akhirnya frame tersambung, dan kami melanjutkan membangun tenda.

Sementara mereka memasang pasak, aku mencari batang pohon yang agak jarang di sana, susah sekali mencarinya, untuk menjadi patok untuk flysheet nanti. Cukup satu batang Lamtoro saja, dan yang lainnya diikat di rumput rumput yang ada di tebing itu.
Petang itu kami bisa bermalam di sana dengan hangat, karena masing-masing tenda ditambah lapisan flysheet yang lumayan rapih.

Senda guaru sambil memasak makan malam dari kami berlima membuat sore itu jadi semakin hangat. Menu malam itu, nasi + mie goreng + baso goreng, sederhana tapi nikmat di makan di kala kelaparan.

Di tenda itu memang tidak dingin, tapi aku tidak bisa tidur, karena terus merosot. Kami menggunakan aluminium fold dan sleeping bag kami menjadi sangat licin, karena alasnya memang menurun tidak rata. Ya sudah mau apa lagi, sepanjang malam aku terus-terusan membenahi posisi tidur aku. Beberapa kali tenda aku seperti ada yang menggoyang-goyang, aku pikir itu orang yang lewat atau babi. Karena katanya di Sindoro suka ada tangan jahil dan masih ada babi yang kadang masuk ke area perkemahan. Beberapa kali aku amati gerakan tenda aku, aku duduk dulu, ternyata gerakannya stabil seperti angin yang menerpa tenda. Aku tersenyum sendiri puas ternyata kali ini bangunan tenda aku bisa bikin hangat penghuni, walaupun diterpa angin.

Summit Attack

Kami berencana bangun jam 4 pagi, sholat dan masak ala kadarnya lalu mulai pendakian ke puncak jam 5, tapi sampai jam setengah enam baru kami memulai kegiatan di pagi itu. Kami hanya mempersiapkan penganan kecil yang dibawa ke puncak dan three musketeer malah asik menikmati sun rise dari tempat kami berkemah. Setengah jam kemudian kami mulai Summit Attack.
Perjalanan ini langsung mendera lutut dan nafas kami. Sepagi itu kami sudah berkeringat, padahal suhu di luar masih sekitar 15 derajat. Setengah jam kami berjalan, kami sampai di pos 4 dan ternyata kami sadar bahwa kami memang bertenda di bawah pos 4.

Puncak Sindoro bersama Three Musketeer dari Teknik Mesin UNJ

Jalur sepanjang pendakian ini adalah batuan bekas jalan air. Perjalanan terus mendaki tanpa bonus, dan di sini aku terbayang jika harus membawa carrier bag sampai ke puncak, betapa beratnya. Tapi banyak pendaki yang membawa serta carrier bag nya sampai ke puncak, karena dari berita yang beredar di pos 3 Sindoro sering terjadi pencurian. Kami sendiri meninggalkan barang kami di tenda, kecuali carrier bag milik Cinta yang aku bawa ke atas hanya berisi makanan dan minuman. Maklum ransel ini masih baru dan harganya 3 digit, aku tahu karena aku menemani waktu beli di Kuningan City 🙂 .

Tiga setengah jam kami akhirnya sampai setelah melewati sekumpulan Edelweis yang belum berkembang. Di puncak Sindoro terdapat kawah kecil yang sebenarnya bisa didekati, tapi tidak diperbolehkan oleh penjaga pos pendaftaran, karena asap belerang yang membahayakan. Di bawah terlihat tumpukan batu yang disusun oleh pendaki yang pernah turun ke sana bertuliskan kata-kata organisasi atau juga nama seseorang, mungkin kekasihnya.

Awaspala di Puncak Sindoro

Kami berlima cukup menikmati puncak Sindoro dari atas sini, dan tidak ingin turun juga. Buat aku memang asap kawah itu sangat mengganggu pernafasan aku. Kami melihat ke Selatan, di sana Sumbing menanti untuk didaki, ke Tenggara sepasang Merbabu dan Merapi sedikit tertutup kabut. Kami tidak bisa melihat Slamet yang berada di sebelah Barat kami, dan juga Prau dan dataran Dieng di Utara kami. Untuk itu pendaki harus berjalan memutari kawah untuk melihat seluruh pemandangan sekitar.
Iwa, Arie, dan Heru ingin melihat pemandangan di sebelah Utara, maka mereka pergi menyusuri tepian kawah dan berhasil membuat beberapa dokumentasi di sana.

Setengah jam lebih kami di sana, dan sekitar jam sebelas kami turun lagi ke perkemahan. Waktu turun kami sekitar satu jam, kami bersyukur ternyata tenda kami masih utuh dan tidak ada tangan-tangan jahil yang mampir. Masak-masak sebentar, dadar telur ayam dicampur telur puyuh yang tadinya mau direbus tidak jadi, karena kami harus menghemat air. Air hanya untuk masak nasi. Semua digoreng, bakso digoreng, mie juga harus mie goreng. 🙂

Turun ke Base Camp

Seperti yang aku bayangkan ketika naik, perjalanan turun pasti akan lama karena kami mesti berhati-hati. Kami lakukan perjalanan turun seperti biasanya dengan beberapa kali rest, dan rest agak lama jika sampai di pos. Bila turun selalu terbalik dengan naik, jika naik aku di belakang Cinta, dan jika turun aku selalu di depan untuk berjaga-jaga jika nanti dia jatuh. Medan yang sulit ini mau tidak mau membuat dia kelelahan, akhirnya di antara pos 3 dan pos 2 dia terjatuh, sementara jarak aku sekitar 3 Meter, yasudah aku tidak bisa menangkap. Setelah itu ada gangguan di lutut kiri Cinta, perjalanan semakin lambat dari biasanya.

Untuk sampai di pos 1 kami memerlukan waktu 3 jam, dan kami meneruskan dengan ojek ke Basecamp. Memang di pos 1 sudah menunggu sekitar lima tukang Ojek. Sesampainya di Basecamp kami langsung menghampiri tukang bakso di dekat Basecamp.

Setelah itu kami menunggu antrian WC untuk sekedar membersihkan diri, kami berdua juga menunggu three musketeer yang menitip tas karena mereka tidak mau naik Ojek. Satu jam lebih kami menunggu di sana, dan tetap saja belum mendapat antrian ke WC.
Akhirnya aku berdua putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Dieng dengan target Puncak Sikunir.

Ke Dieng

Perjalanan ke Dieng kami lanjutkan dengan sebelumnya menuju Wonosobo. Menunggu Mikrobis ke Wonosbo di seberang balai desa Kledung sore itu dingin sekali, karena kami harus menunggu lama hampir seperapat jam, maunya aku peluk aja Cinta supaya hangat 😀 .

Di sini butuh ilustrasi foto

Mikrobis yang kami tunggu akhirnya datang juga, perjalanan kembali ke Wonosobo memakan waktu setengah jam. Kami bilang ingin langsung ke Dieng, oleh karena itu pak Kondektur menyarankan kami untuk turun di pasar induk Wonosobo tempat biasanya angkot ke Dieng mangkal.

Tapi sore itu masih belum jam 6, angkot yang dimaksud sudah tidak ada, setelah kami bertanya orang di sekitar pangkalan angkot. Sebenarnya memang bukan di situ tempat menunggu angkutan ke Dieng, tapi karena terlanjur kami berpikir sudah tidak ada angkutan lagi maka sebaiknya kami istirahat sambil makan malam dulu. Kami menyisiri pinggiran pasar dan di sana banyak sekali warung lesehan, dan kami memilih salah satunya yang menyediakan nasi goreng babat dan ada juga wedang ronde. Aku sarankan kita pikirkan perjalanan selanjutnya di situ.

Sambil menikmati wedang ronde dan seporsi nasi goreng yang dimakan berdua (romantis bingit), kami menimbang-nimbang untuk tetap ke Dieng menggunakan careteran @Rp. 150.000, atau menggunakan taksi yang kami belum tahu harganya mengingat perjalanan ke Dieng masih stu jam lebih, atau istirahat semalam mencari home stay yang layak untuk istirahat. Kami putuskan untuk istirahat semalam, dengan konsekuensi kami tinggal punya target Gn. Prau dan jalan-jalan sebentar di Dieng.

Bertanya pada tukang nasi goreng, yang ternyata mantan pendaki juga, kami disarankan untuk menginap di losmen anu yang masih terbilang murah lah. Dan kami pun menuju ke sana, sambil tidak sabar untuk cepat-cepat mandi.

Esok paginya kami mulai beraktivitas dengan sarapan yang ada di depan losmen. Kami tidak mendapat sarapan, hanya the manis saja. Di depan sudah menunggu penjaja nasi gudeg langganan losmen. Kami mencari alternatif lain sambil mencari buah-buahan untuk bekal pendakian. Sepanjang waktu kami mencari sarapan dan buah, ternyata semua penjaja hanya menyediakan nasi gudeg dan pelengkapnya. Mungkin kalau di Jakarta adalah kebiasaan sarapan nasi uduk. Ya sudah kami akhirnya makan nasi gudeg, dan dari penjaja yang ada di depan losmen juga 😀 .

Sambil bersiap-siap packing kami tidak henti-hentinya menghubungi teman awaspala yang sedang dalam perjalanan ke Wonosobo, mereka juga akan melakukan pendakian ke Prau. Mereka adalah Doel, Suci, Alvin, Caecil, Uly, Mega, dan Agni. Rencananya kami akan bersama-sama satu bis ke Dieng, tapi mereka berada jauh di terminal yang lain, sehingga diputuskan kami berdua berangkat ke Dieng lebih dulu.

Tidak lupa membeli sayuran sop di pasar yang kami lewati tadi, aku berjanji memasak sayur sop untuk Cinta. Cukup beli 3.000 saja, dan bumbu instan memang sudah dipersiapkan begitu juga baksonya masih setengah dari yang terpakai di Sindoro.

Untuk menunggu angkot ke Dieng kami harus melewati pasar induk belok ke kiri masuk ke pangkalan angkot yang kebanyakan tujuan Garung, kemudian belok kanan ke arah jalan Pemuda, dan kemudian ke kiri ke arah jalan Pramuka sampai ke pertigaan jl. Pramuka – jl. Bismo. Di sana biasanya Mikrobis menuju Dieng lewat. Tidak lama kami duduk sudah ada Mikrobis yang menuju Dieng, perjalanan ke Dieng dimulai. Asap rokok tidak henti-hentinya mengganggu kami ketika dalam bis, untuk catatan merokok di dalam bis di daerah Wonosobo masih biasa.

Satu jam perjalanan kami sampai di terminal Dieng, kami berhenti ke depan sedikit di pertigaan ke candi Arjuno di depan Indomaret. Di warung di seberang Indomart itu kami mencicipi penganan khas Dieng, Carica, semcam buah pepaya mini yang hanya tumbuh di sana. Carica dikemas dalam manisan dan dipaketkan dalam kemasan mangkuk plastik. Sebuah harganya 5.000 Rupiah, kalau sekotak isi 6 harganya 25.000. Ya kami beli sekotak, dua di makan dan empat di bawa ke puncak sebagai pengganti nata de coco penganan tradisi kami jika muncak.

Lama sekali terasa kami menunggu di sana, sementara Cinta terlihat lemas dan mengantuk. Hampir satu jam kami menunggu, dan karena kami sudah lapar tengah hari itu kami putuskan untuk makan dulu. Mencari-cari warung makan dekat meeting poin yang enak, akhirnya kami memilih warung bakso lagi. Baru saja bakso disiapkan dan akan disantap, si Doel datang ke warung bakso, katanya baru sampai. Mau bagaimana lagi, baksonya baru saja dihidangkan, terpaksa mereka menunggu kami makan bakso.

Jalan-jalan di Dieng

Doel bilang mereka mencarter mikrobis seharga 350.000 untuk kami jalan-jalan di Dieng, kami setuju saja, dan memang itu lebih efisien untuk mengunjungi objek wisata di Dieng. Pertama kami mengunjungi Candi Arjuna, sebuah komplek candi Arjuna dan Srikandi yang terawat rapih. Di sekitar rumput-rumput kecil terawat menambah indahnya komplek candi ini. Di depan candi Arjuna, sekelompok orang berdandan wayang menawarkan jasa pemotretan, bila foto dengan kamera sendiri cukup membayar 5.000.

Komplek Candi Arjuna

Kami bersembilan di sana sekitar setengah jam, biasa dengan gadget yang canggih-canggih adalah kesempatan untuk bernarsis ria. Perjalanan selanjutnya adalah kawah Sikidang.

Kami sudah ditunggu oleh supir bis untuk dibawa ke area kawah Sikidang. Tidak lama, sekitar sepuluh menit kami sampai di kawah Sikidang. Obyek wisata ini adalah area kawah yang masih mengepulkan asap belerang. Batu-batu sekitarnya menjadi berwarna kuning dan putih, bagi turis Eropa hal ini sangatlah attraktiv karena memang jarang sekali mereka melihat hal seperti ini.

Tongsis: Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

Setelah beberapa kali mengambil gambar dan memanfaatkan monopod, kami lanjutkan perjalanan ke batu pandang. Batu pandang berada di belakang gedung teater Dieng. Kami tidak masuk ke Teater tapi langsung ke Batu pandang. Berjalan sedikit agak menanjak, kami harus melewati loket seharga 3.000 Rupiah. Dan wow. Di sini kami bisa melihat Telaga Warna sangat jelas dan sangat indah.

Dua telaga berbeda warna padahal mereka berdekatan, yang satu berwarna hijau kebiru-biruan dan yang satu lagi berwarna kuning kecoklatan. Dari sini pengambilan gambar Telaga Warna sangatlah tepat, kami berdiri di Batu pandang dan mengambil gambar berkali-kali.

Pemandangan dari Batu Pandang

Telaga Warna dari Batu Pandang

Setelah puas menghabiskan waktu di Batu pandang, tidak terasa Sabtu itu sudah jam 14:00. Kami segera turun dan melanjutkan perjalanan utama kami, Puncak Prau. Dalam perjalanan selanjutnya ke Base camp diadakan pemungutan suara untuk memilih jalur pendakian. Aku berdua Cinta menyatakan, jalur yang mana saja boleh, apakah Dieng yang landai tapi lama atau Petak Banteng yang agak curam tapi berjarak dekat. Sebagian besar menginginkan lewat jalur Dieng, dan itu memang lebih baik, karena mereka juga bisa menghemat waktu untuk makan siang dan mempersiapkan packing.

Tidak sampai seperempat jam kami tiba lagi di terminal yang juga jadi basecamp Prau dari Dieng. Kami makan siang di warung terdekat, dan packing ulang.

Pendakian Prau

Hampir jam tiga sore baru kami memulai perjalanan setelah Doel dan Alpin melakukan pendaftaran di Base camp. Selanjutnya perjalanan dimulai dengan berdoa bersama, dan teriakan AWASPALA.

Perjalanan awal adalah tangga-tangga bata permanen yang biasa digunakan penduduk lokal menuju ladang sawi dan lainnya di atas. Sekitar dua Kilometer jalan yang kami lalui adalah ladang-ladang penduduk hingga mencapai gerbang dari bambu bertuliskan Prau.

trek pendakian

Suci yang pada pendakian kali ini sangat gesit

Trek terbilang landai, tapi sesekali kami harus waspada pada jalur yang sedikit basah karena jadi agak licin. Sekitar satu jam perjalanan kami semua berhenti di area yang agak datar, di sini kami bisa melihat gagahnya gunung Slamet, yah kami memang berjalan ke Timur ke arah pemancar membelakangi gunung Slamet. Akan tetapi posisi kami semakin tinggi sehingga, pemandangan Slamet yang diselimuti awan putih sangat indah dari sini.

Caecil dan Alpin menunjuk Sindoro – Sumbing

Sunset dan Slamet dari kejauhan

Pendakian kami lanjutkan dan sekitar 200 Meter di bawah pemancar kami berhenti lagi untuk mengambil Sun set, lagi-lagi ke arah Slamet. Tapi angin mulai menerpa sangat dingin sore itu, semua sudah mempersiapkan jaketnya. Aku mengingtkan agar headlamp sudah siap di kantong yang dekat. Setelah mengambil beberapa gambar yang super indah di sini, kami lanjutkan perjalanan. Adzan maghrib terdengar dan kami baru sampai puncak pemancar, angin begitu dingin menerpa kami di puncak pemancar. Sambil melengkapi pakaian dan sarung tangan di puncak aku sarankan ambil suara lagi untuk berkemah di sini atau tetap melanjutkan perjalanan ke puncak Prau. Pengambilan suara cukup singkat, sebagian besar menginginkan berkemah di sekitar puncak Prau, maka kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan selanjutnya adalah menuruni puncak pemancar sekitar 100 meter, naik lagi sekitar 200 meter tapi trek tidaklah sulit, Caecil dua kali terperosok mungkin karena gelap saja. Hampir satu jam perjalanan turun naik ini, kami sampai di sabana, tinggal 2 bukit lagi ke puncak Prau. Di sana ada tiga tenda dari tim lain sudah berdiri, menggoda kami untuk berhneti juga.
Kebanyakan khawatir, setiba di tempat yang dituju ternyata juga tidak tersedia lahan untuk berkemah, maka diputuskan 2 orang untuk pergi melihat area yang layak jadi lahan bertenda di atas. Si Doel dan Suci bersedia untuk ke sana, tapi ternyata akhirnya tidak jadi jalan dan diputuskan bertenda di sekitar situ. Lahannya datar dan memang bekas orang membuka tenda di sana, maka di situlah kami membangun tenda.

Tiga tenda kami dirikan, tapi hanya dilindungi 2 flysheet yang dijadikan “teras” untuk berkumpul memasak. Susahnya mensetting flysheet di sabana yang tidak ada satu batangpun ranting bisa digunakan sebagai pegangan, akhirnya aku gunakan kedua frame ranselku untuk itu.

Makanan yang dibawa tim ini sangat berlimpah, nasi, mie, nuget, telur,cireng, melon, 2 kilo nata de coco, belum lagi segala macam minuman instan. Well aku sendiri masih membawa nasi satu tupperware + lauk, baso dan sop, empat cup carica, dan buah dari pasar tadi pagi.

Malam itu kami makan sangat berkecukupan, aku sisakan nasi untuk membuat teman makan sop yang aku janjikan ke Cinta. Bagusnya memang makanan jangan dicampur semua, khawatir tidak habis tidak ada yang mau memakan. Benar saja makanan yang dicampur ada yang tersisa.

Setelah semua kenyang, kami malas lagi untuk membersihkan peralatan. Satu persatu masuk ke tenda siap-siap tidur. Kali ini tenda kami rata, tetapi … tenda kami tidak cukup terlindungi dari angin. Flysheet yang ada tidak melindungi sebagian besar tenda, angin malam itu terasa sangat dingin menusuk tulang. Kembali kami tidak bisa tidur, aku tidak tahu apakah angin yang terlalu dingin menerpa atau memang keadaan kami berdua yang sudah terkena flu sejak turun pendakian Sindoro kemarin, yang pasti angin malam itu tidak mau membiarkan kami tidur nyenyak. Bahkan ini rahasia yaa, Cinta merelakan handuk dan sebuah kausnya untuk diompoli, karena dia tidak mau keluar tenda untuk pipis karena sangat dingin waktu itu.

Aku sempat tertidur, dan dibangunkan, aku bilang aku juga kedinginan, dia mau gabung ke tenda Doel dan Uci, terus aku bilang coba panggil dulu. Ternyata tidak ada satupun dari keempat orang itu yang bangun. Akhirnya dia tetap di tenda, dan aku bilang coba tidurnya seperti udang terus jangan berpikir tentang dingin itu sendiri. Susah sekali, hingga menjelang subuh baru angin dingin mulai pergi.

Aku sadar kami berdua sudah drop karena pendakian hari sebelumnya ditambah lagi flu yang menyerang. Jadi pagi hari itu ketika semua sudah bangun, dan si Doel dan Uci malah sudah membuat teh manis hangat dan memasak puding, kami masih belum mau beranjak dari tenda. Akhirnya aku bangun dan memasak air untuk membuat bubur instan untuk Cinta, aku khawatir keadaanya memburuk. Semua sudah siap memburu Sunrise di puncak Prau yang berjarak sekitar sperapat jam lagi, aku malah menyiapkan sayur sop yang belum dicuci. Ya sudah silakan berangkat aku sebentar lagi menyusul kalian.

Doel dan Uci kompak

Sekitar 10 menit tertinggal kami baru siap-siap berangkat. Berjalan sekitar 50 meter, kami naik ke bukit sebelah kanan, ternyata kami salah arah, seharusnya berjalan lurus terlebih dahulu. Kami terus ke Selatan ke bukit yang satu lagi, ternyata Sunrise sudah terlihat dan kami berdua putuskan untuk tidak menyusul mereka di puncak Prau, walaupun sebenarnya tinggal dua atau tiga ratus meter lagi.

Kami pun menghabiskan waktu kami dengan monopod yang dibawa Cinta, sayang sekali angin terus berhembus sangat dingin pagi itu. Wajah kami yang terserang flu pun sebenarnya sedang tidak bagus untuk dishoot kamera, tapi tetap saja latar belakang yang sangat indah, sangat sangat indah saya ulangi, tidak bisa membiarkan kamera tab Cinta diam.

Sunrise, tampak Merbabu-Merapi di latar belakang

 

Puncak Prau

Ke arah Tenggara, Merbabu-Merapi diselimuti awan putih yang keemasan diterpa cahaya matahari pagi, begitu juga Sumbing – Sindoro di Selatan yang gagah masih diselimut kabut. Ke Barat di bawah kami adalah dataran tertinggi kedua di dunia, Dieng yang fenomenal begitu indah dengan ladang-ladangnya berbentuk sengkedan. Di kejauhan di Barat sang Slamet terdiam nyaman diselimuti kabut putih, aku bilang, Cin itu gunung di mana aku propose kamu, dia Cuma senyum.

Puncak Prau

Sekitar setengah jam kami berdua di sana, bersama-sama pendaki lain yang mengambil spot pengambilan gambar yang sama. Selanjutnya kami turun ke tempat tenda lagi, sepuluh menit saja jarak ke tenda kami. Kami mulai lagi masak-masak, bakso sop, nuget, telor dadar, cireng, mie rebus, mie goreng, belah melon, buka nata de coco, carica. Semua makanan yang tersedia lebih dari cukup untuk sarapan pagi itu. Dan akhirnya kami membuang mie rebus dan mie goreng yang hampir masih utuh.

Caecil dan Uci sigap sekali masak, Caecil menggoreng Nuget dan Cireng, sementara Uci menggoreng Dadar. Dibantu Uly mereka masak Mie goreng dan mie rebus. Sementara, sup yang sedianya aku yang masak eh dimasak sendiri sama Cinta, padahal katanya gak bisa masak, makanya aku ingatkan berkali-kali mana yang direbus duluan, eeh aku dibilang bawel.. nasib

Turun ke Dieng lagi

Sambil makan hidangan pagi itu dan diselingi canda tawa, kami membicarakan jalur turun, dan semua sepakat untuk turun melalui Dieng lagi, karena kami menginginkan pemandangan yang lebih bagus dari pada kami ke Selatan ke Petak Banteng.

Tepat jam sepuluh Minggu pagi itu semua ransel sudah rapih, kami semua memulai doa untuk mengawali perjalanan turun, dan teriakan khas kami AWASPALA. Setengah jam kemudian kami sudah sampai puncak pemancar. Istirahat sebentar, kami lanjutkan perjalanan turun, dan setengah jam kemudian kami sudah sampai di tempat kami mengambil gambar sunset kemarin sore.

Kembali ke BAse Camp Dieng

Setelah istirahat sebentar, kami lanjutkan perjalanan dan beberapa ratus meter dari gapura bambu, kami temui Alpin, Suci, dan Caecil sedang menikmati nata de coco yang kedua. Kami berdua bergabung sebentar, sampai rombongan Doel dan ketiga bidadarinya sampai. Perjalanan dilanjutkan, dan tidak sampai sepuluh menit kami sudah melihat ladang-ladang penduduk di depan kami.

Doel dan pengawalnya

Suci paling depan sangat gesit, aku tidak bisa melihat lagi punggung carriernya. Alpin dan Caecil yang sedang membuat cerita mereka sendiri agak di depan kami. Aku dan Cinta yang mulai tertatih-tatih lagi karena lutut kirinya kambuh berada puluhan meter di belakang mereka. Kami berdua pun melambat, dan terpisah jauh dari Alpin dan Caecil di tikungan depan. Tidak sadar kami berdua malah berjalan terus ke arah sekolah SMP yang membuat kami harus memutar sedikit untuk ke arah Base camp.

Sesampainya di base camp kami berdua ingin mengisi perut dulu di warung yang bukan seperti kemarin, di warung mbak Wxxx yang semuanya terasa manis. Lalu kami mampir di warung mbak Wien yang berseberangan dengan tempat teman-teman berkumpul, nah di sini masakannya sesuai dengan lidah kami. Kami tidak sadar kalau tidak ada telpon, kalau kami sudah ditunggu mereka dari tadi, sorry ya teman… makanannya enak sih jadi kami agak lama di sini.

Sepuluh menit kemudian kami bergabung dengan tim, dan melanjutkan perjalanan menggunakan mikrobis ke Wonosobo. Sang TS Doel mengusulkan kita berhenti sebentar di Petak Banteng untuk membeli oleh-oleh. Dan ternyata supir Mikrobis mau saja berhenti menunggu “ibu-ibu” muda ini belanja, ada setengah jam kami di sana.

Selesai belanja kami bergegas meneruskan perjalanan, untuk beberapa saat aku kehilangan tempat dudukku. Tapi setelah dapat duduk lagi, aku tidak tahu lagi cerita perjalanan, kecuali sudah sampai di terminal Wonosobo dengan kedua telingaku yang mampat dan sedikit pusing karenanya.

Di sini kami berpisah

Di terminal Wonosobo, Doel dan teman dari Surabaya(Uly, Agni, dan Mega) masih mencari tiket pulang, Caecil mempersiapkan plastik pembungkus Deuter barunya, Cinta dan Uci ke WC, sedangkan aku masih mencari keseimbangan karena telinga tuli dan baru bangun tertidur di Mikrobis.

Aku dan cinta sudah punya tiket KA Progo ke Pasar Senen, dan harus mengejar kereta itu yang tidak mungkin lagi diraih di Kebumen. Kami berdua segera pamit untuk segera ke Purwokerto. Bis ¾ ke Purwokerto sudah menunggu, sangat tidak nyaman, bau asap knalpotnya masuk ke ruangan penumpang, tapi mau apa lagi ternyata kami butuh bis itu.

Perjalanan dengan bis ini menguras emosi kami, kadang mengebut seperti Shumacher, kadang ngetem sembarangan, dan perlu dicatat, bis ini selalu berkunjung ke terminal yang dilalui, sperti Banjarnegara, Purbalingga dll.

Dag dig dug kami khawatir tertinggal oleh kereta Progo, dan belum tahu pasti, apakah kami boleh naik di Purwokerto sedangkan di tiket kami tertulis Kutoarjo-Ps Senen. Kami sudah bertanya ke Kondektur sejak di Wonosobo, bahwa kami akan ke stasiun KA. Purwokwrto, tapi ternyata dia lupa, dan seharusnya kami sudah turun di persimpangan satu kilometer tadi, malah ikut sampai dalam terminal bis Purwokerto.

Sesampai di terminal aku ingin naik taksi, tapi tukang ojek sudah sampai terlebih dahulu menawarkan jasanya. Seperempat jam katanya untuk sampai ke stasiun Kereta Api Purwokerto. Jam menunjukkan 17:10 kami harus tiba di stasiun sebelum jam 18:30. Tidak ada pilihan lebih baik lagi kecuali ikut ojek-ojek ini, dan memang jaraknya cukup jauh. 17:30 kami sampai di stasiun, kami tergesa-gesa bertanya ke petugas apakah kami bisa masuk stasiun, dan ternyata boleh.

Mengingat waktu yang masih 45 menit lagi, Cinta menawarkan aku untuk mandi terlebih dahulu, aku OK saja. Baru sepuluh menit aku di kamar mandi, suara Cinta memanggil-manggil, mas mas kereta nya udah datang. Aku tergesa-gesa mandi, dan langsung ke spur 2 tanpa alas kaki dengan membawa pakaian kotor, sepatu, ransel yang masih berantakan. Well Kereta Api sekarang bikin aku salut, on time, dan bikin deg degan untuk aku yang masih kurang disiplin.

Selanjutnya kami teruskan perjalanan di kereta api Progo yang tiba di stasiun Ps. Senen tengah malam nanti. Sepanjang jalan kami ingin tidur yang nyenyak walaupun sambil duduk, tapi kami berdua tetap sesenggukan seperti 2 hari sebelumnya karena pilek dan lesu kehabisan tenaga, begitu terus sampai ujung perjalanan.

Well …
Awaspala mengibarkan logonya lagi, kali ini di Sindoro dan Prau, sementara tim lain sudah pulang berhasil mengibarkan bendera Awaspala di Argopuro dan Rengganis.
…….
Yaaa eeee

Untuk perjalanan ke Jantung Jawa ini disarankan:

  1. Jika menggunakan KA, turun di Purwokerto dengan perkiraan waktu Purwokerto-Wonosobo 4 jam. Biasanya tarif KA ke jalur ini sekitar 40.000, dan tarif Purwokerto-Wonosobo 25.000
  2. Jika menggunakan bis malam, ada yang langsung ke Wonosobo dengan tiket berkisar 80.000 s.d. 105.000 sekali jalan
  3. Wonosobo adalah sentral ke arah mana perjalanan dilanjutkan, tapi bila ingin ke SUSI (Sumbing-Sindoro) tidak perlu sampai terminal Wonosobo, tapi di pertigaan S. Parman, dan sediakan waktu 1 jam. Dari sini ke Kledung atau Garung 5.000 lokal, orang luar biasa ditambah-tambah 7.000/orang
  4. Jika ingin ke Dieng, maka Wonosobo-Dieng biasanya 15.000
  5. Untuk tim yang terdiri dari 10 -15 orang sangat menguntungkan jika mencarter sekaligus Mikrobis untuk mengantar ke obyek-obyek wisata di Dieng, kira-kira 350.000
  6. Jika ingin menikmati sun rise di empat puncak, saya sarankan Sikunir – Prau – Sindoro (Tambi lintas ke Kledung) – Sumbing(Garung)

 

 

Posted in Gunung.

2 Comments

  1. Ini catper awaspala pertama yg aku bacaa..
    Asik banget cara berceritanya papih… hahaa

    Utk temen2 yg jalan brg kemarin,
    Terima kasihhhh utk semuanyaa..
    Dan mohon maaf kl ada yg krg berkenan..

    PS.
    Motivasi cepet turun krn sakit perut nya ampun2an..
    Logistik makanan pindah ke perut semua.

    AWASPALA yaaaaeeeee

    • ditunggu juga kalo kamu punya catatan tentang perjalanan bareng awaspala cil. Kan kemaren ke Gede tuh, gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *