Slamet, Puncak Ikatan: Sebuah Catatan Perjalanan

disalin dari: http://quncen.blogspot.com/2013/10/slamet-puncak-ikatan-sebuah-catatan.html

 
Galau
semua teman punya acara nanjak abis lebaran, sementara saya bakal bengong di
rumah. Ada tawaran nanjak ke Rinjani atau Semeru lagi, saya mau yang lain.
Teman dari Jambu Kupi
punya acara sendiri-sendiri gak ngajak-ngajak, akhirnya saya tunggu undangan
yang lain aja. Ternyata ada BC dari Anja, teman nanjak Rinjani tahun 2012,
ngajak nanjak ke gn. Slamet. Sayang saya gak punya teman dari AWASPALA yang
ikut, saya bilang ke Anja nanti deh pikir-pikir dulu.
Sementara saya lagi
kasmaran sama teman nanjak waktu ke Semeru Juni 2013 lalu, saya kasih semangat
dia yang mau ke Rinjani. Sepertinya dia udah siap semuanya untuk mencapai
puncak Rinjani. Tapi tiga pekan sebelum hari H, dia bilang gagal ke Rinjani
karena ada tugas ke pabrik yang di Pontianak.
Saya jadi ingat
tawaran ke Selamet dari Anja, saya langsung tawari dia ke Selamet pendakian
bersama GreenForest tgl 16 – 19 Agustus 2013. Dia langsung OK, karena sesuai
jadwalnya. Mulailah saya menghubungi Anja tanya itinerary nya dan harga iuran
karena tertera Rp. 300.000 untuk yang dari Bandung dengan fasilitas transport
PP. Akhirnya saya dapat harga dua ratus ribu, tapi berangkat dari Jakarta. Saya
gak pikir panjang saya pikir saya dapat transport dari purwokerto ke meeting
point, ternyata KAGGGGAAAK.

Saya udah keburu
senang karena pergi berdua Cinta, saya tidak lagi cerewet tanya ke Anja, kalo
saya nanti dapat apa aja. Saya percaya aja ke Anja, karena dari cerita-cerita
pengalaman dia yang udah naik ke sana-sini dan beberapa kali bikin even bersama
http://ngesottrip.com/ . Saya baru sadar harus tanya ini itu waktu Cinta tanya
di pertemuan di Bandung perayaan Ultahnya anak AWASPALA lain Yogi and Casper.
Saya sudah terlanjur
transfer 400.000 untuk dua orang sementara Cinta membelikan tiket KA pulang dari
Purwokerto yang harganya 200 lebih, Cinta emang baik. Saya tanya terus si Anja
soal itinerary nya, dan responnya lama banget. Dari itu saya udah gak berharap
banyak dari Anja.

 

PERSIAPAN

 

Beda dari pendakian
saya sebelumnya, saya bahkan gak mempelajari serius karakteristik gunung Slamet
apa lagi peta jalur pendakian. Saya ingin mengandalkan panduan dari kelompok
pendakian ini, tapi tidak ada, karena sebenarnya praktis semua kami urus
sendiri. Saya hanya mempersiapkan logistik yang tadinya saya mau beli di lokasi
meeting point, tapi saya khawatir di sana kami tergesa-gesa mempersiapkan
semuanya.
Saya hanya ingat untuk
mencetak voucher tiket KA yang sudah saya beli online, karena khawatir nanti
harus antri panjang di stasiun Pasar Senen. By the way, kami dapat tiket promo
KA Sawunggalih seharga 50.000 dan 75.000, karena mungkin jarang peminat untuk
pergi ke daerah pada masa setelah  lebaran itu.
Cinta sudah
mempersiapkan carriernya di kantor di daerah Jl. Sudirman dan berencana
langsung ke kantor setelah mendarat dari Pontianak.

 

TRIP DI MULAI

 

Aku minta ijin untuk
titip motor di gedung kantor Cinta, karena berdasarkan pengalaman yang lalu ke
stasiun Pasar Senen, saya mengalami masalah kemacetan. Berangkat dari rumah jam
setengah lima sore ternyata sampai di gedung kantornya Cinta gak sampai satu
jam. Sampai di sana saya ragu-ragu mau masuk ke gedung karena saya bawa tas
yang tingginya melebihi kepala saya, takutnya ditanya ini itu. Saya akhirnya
memutuskan untuk menunggu di warung rokok agak jauh ke dalam di ujung jalan
kantor itu.
Pesan kopi sebentar
sambil istirahat di warung rokok yang teduh itu, kebetulan di sana juga banyak
orang yang mengaso sambil ngopi. Kopi siap dan baru saya aduk-aduk dikit, di
seberang jalan saya lihat sosok yang saya tunggu sambil menarik tas berroda.
Saya panggil-panggil tepuk tangan dianya gak liat, ternyata dia kelaparan
langsung masuk ke warung nasi di seberang jalan itu. Saya baru tahu, ternyata
pegawai kantor yang di ujung jalan sana lebih suka makan di sini.
Setelah repacking di
kantor, kami berangkat ke stasiun Pasar Senen dengan Taksi yang mungkin tidak
sampai seprapat jam dari sana, suasana jalan di Jakarta waktu itu sangat ramah
dan lancar.

 

BARENG TAPI MISAH

 

Saya dan Cinta
sama-sama ke Purwokerto dengan kereta yang sama, tapi pisah tempat duduk jauh
sejauh 3 gerbong. Ngetrip bareng orang yang dikangen-kangen memang enak, tapi
BT kalau harus pisah gerbong. Singkat cerita, walaupun sebenarnya lama,
sampailah kami di Stasiun Purwokerto jam 2 malam tgl 17 Agustus 2013.
Berkali-kali
menghubungi Anja untuk kepastian di mana kami dijemput, ternyata kami harus ke
pertigaan Serayu untuk bergabung ke Bambangan gerbang pendakian. Saya tahu Cinta
kecewa, tapi saya rasa gak enak sama Anja karena teman, ke sana gak enak ke
sini gak enak.
Akhirnya kami sepakat
untuk mencari angkutan langsung, tapi sebelumnya cari-cari teman senasib yang
mau nanjak Selamet. Mudah sekali mencari teman sharing cost, karena ciri-ciri
nya bisa dilihat dari bawaan dan gaya pakaian mereka. Ada empat pendaki lain
yang juga mau ke Bambangan yang akhirnya jadi teman sharing cost angkutan
seharga 350.000 sampai Bambangan.
Perjalanan sunyi
mendebarkan
Perjalanan ke arah
Barat Daya Purwokerto pada dini hari itu sangat sunyi, maklum ini bukan kota
besar. Setelah setengah jam perjalanan, teman-teman kembali meneruskan tidur,
sementara saya tidak bisa tidur memperhatikan arah perjalanan. Iri saya sama Cinta
yang gampang tidur, padahal di kereta tadi saya sempatkan ke tempat duduknya,
dia asik meringkuk di kursi terlelap, mungkin karena kecapean kunjungan kerja
nya.
Melewati pertigaan Serayu
perjalanan diteruskan sampai ke daerah perbukitan yang terus menanjak dan
diselimuti kabut tebal. Mobil yang kami tumpangi ternyata tidak dilengkapi
lampu kabut, sehingga kami harus berjalan pelan, karena sang supir tidak bisa
melihat jauh melebihi 5 Meter. Supir justru berjalan di sebelah kanan, kerena
di sana dia bisa melihat pinggir jalan sambil membuka jendela mobil. Kecepatan
kami mungkin hanya 5KM/jam waktu itu.
Setelah hampir tiga
jam perjalanan dan bertanya beberapa kali pada penduduk setempat, akhirnya kami
sampai di pondok pemuda Bambangan. Kami di sambut kabut dan gerimis, saya tidak
bisa menghubungi Anja. Di Pondok itu banyak pendaki yang tidur, tapi pintu
dikunci dari dalam, sementara kami di luar. Karena dingin kami ingin masuk dan
mengetuk pintu beberapa kali, sayangnya mereka tidur sangat nyenyak hingga
tidak menyadari banyak pendaki di luar pondok.
Setengah jam kemudian
datang rombongan pendaki lain, di antaranya ada turis dari Jepang. Salah satu
dari rombongan pendaki itu berinisiatif membangunkan pendaki yang tertidur di
dalam. Pintu pondok akhirnya terbuka, lumayan kami bisa masuk dan berlindung
dari angin. Sambil menunggu kepastian Anja, kami melakukan repacking. Kami
menunggu sampai hampir satu jam, tidak ada tanda-tanda rombongan Anja.
Kebetulan malah saya ketemu Anja di wc belakang gedung waktu saya ingin sikat
gigi. Dia bilang rombongan sudah sampai tapi di bawah dekat kepala desa. Saya
bilang saya tunggu di sini aja, toh ke sana juga gak dapet apa-apa.
Kami berdua akhirnya
memilih sarapan di warung bu Yuli di depan pondok, lumayan Cinta bisa pinjem wc
nya juga. Nasi sayur kacang panjang dan tempe ditambah dadar telor dengan rasa
yang biasa saja terpaksa kami  lahap,
karena itu satu-satunya warung yang ada. Segelas teh manis hangat mengobati
rasa dingin pagi itu. Selesai makan, sebenarnya sudah hampir jam 8 pagi, tapi
tidak ada tanda-tanda kelompok Anja, padahal menurut itinerary jam 7 sudah
harus start. Kami yang terlanjur kecewa sudah masa bodoh dengan jadwal. Malah
karena menunggu lama, kami keluarkan lagi kompor untuk masak air di dalam
pondok. Baru saja api kompor spirtus jadi, datang rombongan Anja, kami tidak
jadi masak air, dan segera repacking.

Jam 9 pagi kami mulai
meninggalkan gerbang Bambangan yang masih diselimuti kabut tebal dan gerimis.
Kami melewati perkebunan bawang merah milik warga. Sepanjang perjalanan adalah
perkebunan bawang dan kacang tanah sampai ke lapangan yang luas, setelah itu
perjalanan menanjak tanpa bonus. Pos satu kami raih sekitar jam 11 lebih. Di pos
satu ada pedagang makanan yang mejual lontong/ ketupat dan tempe mendoan yang
digoreng di situ. Saya sempatkan membeli lontong dan mendoan untuk bekal makan
siang nanti, sementara saya dan Cinta istirahat dan makan kurma sambil
narsis-narsis dulu. Pemandangan kota di bawah melalui pos satu siang itu sangat
indah, kabut sudah hilang sehingga pemandangan ke bawah terlihat jelas.
 

 

KE POS 2

 


Perjalanan ke Pos 2
melewati jalur yang berdebu karena waktu itu terik sekali sehingga tanah jalur
pendakian jadi berdebu, walaupun sepanjang jalur banyak pohon-pohon yang
lumayan melindungi kami. perjalanan pos 1 ke pos 2 juga perjalanan menanjak
tanpa bonus, sesekali kami harus menunduk atau melompati akar pohon. Setelah
satu jam kami sampai di pos 2.  

 

KE POS 3

 

Berjalan menanjak
berdebu dengan beban berat sangat menguras tenaga, kami sering kali istirahat.
Beban paling berat adalah air yang harus kami bawa, karena di atas tidak ada
sumber air menurut info pendaki yang turun yang kami temui di Bambangan. Untung
saja Cinta membawa MP3 player yang dihidupkan sepanjang perjalanan, sehingga
cukup menghibur kami. Apalagi ada lagu kenangan kami di sana ‘footprints in the
sand’ milik Leona Lewis. Pos 3 juga kami raih sekitar satu jam.

POS 4 dan POS 5

Pos 4 dan pos 5 kami
raih masing-masing setengah jam, tapi tetap saja perjalanan menanjak tanpa
bonus. Kami sering kali berpapasan dengan pendaki yang turun, sehingga banyak
debu mengganggu perjalanan kami. Di pos 4 maupun pos lima banyak pendaki yang
membuka tenda, dan kelompok kami terhenti di pos 5. Lahan berkemah sudah penuh
karena banyak sekali pendaki yang berkemah, sedangkan ruangan pos sudah ada
yang menempati. Mencari ke sana ke mari, akhirnya kami membuka tenda di depan
bangunan pos 5 yang sebenarnya miring.

 

BERTENDA DI POS 5

 

Menjelang maghrib kami
akhirnya selesai membangun tenda di Pos 5 ini. Kami mendapatkan lahan di depan
pos dengan alas yang miring, sudah terbayang nanti malam tidur pasti merosot
terus.
Angin datang dari hadapan
tenda dan sangat kencang, senja itu saya sudah menggigil dan cepat-cepat
mengenakan sarung tangan. Sambil Cinta beres-beres dan ganti baju di dalam
tenda saya nyalakan kompor gas portable saya. Maksud hati masak air ditunggu
lama ternyata api mati dan air yang ditunggu udah pasti gak kunjung mendidih.
Ternyata kompor ini gak cocok dipakai di sini, semprotan gas nya macet mungkin
karena beku, sedangkan angin yang berhembus juga membuat api selalu mati,
maklum saya masak di luar tenda tanpa flysheeet tambahan.
Akhirnya kami putuskan
masak di dalam pakai kompor spirtus, lumayan juga panasnya untuk menghangatkan
tenda, untung Cinta bawa kompor spirtus. Hati-hati kami masak di dalam tenda
akhirnya menu wajib Cinta, yaitu bubur instan selesai. Masak air lagi untuk
menyeduh kopi dan energen. Cukup itu saja nutrisi kami menjelang tidur, lumayan
untuk mengganjal perut yang lapar. Kami pun berangkat tidur cepat-cepat untuk
Summit attack nanti dini hari. Tapi seperti biasa saya gak bisa langsung tidur,
terus ngajak ngobrol Cinta, maksudnya mau mencairkan suasana, malah jadi
ngobrol serius(masalah masa depan) yang bikin saya gak bisa tidur.
Akhirnya saya lihat
Cinta udah bisa tidur, sementara saya cuma bolak balikin badan seperti lagi goreng
pisang, gak bisa tidur, dingin dan pasti merosot terus.

 

KOMPOR MELEDUK

 

Dorrr kaget saya
ternyata sempat tertidur juga, dan masih bingung ada apa, tenda gelap sementara
ada pemandangan terang benderang dari luar tenda Cuma berjarak sekitar 30Cm
dari bagian kepala Cinta. Saya langsung duduk, cari head lamp susah banget
sementara, Cinta udah menabrak saya ketakutan, karena di luar suara perempuan
berteriak-teriak sambil menyebut nama Allah berulang-ulang. Aku masih bingung,
tapi itu pertama kalinya Cinta meluk saya, sayang dalam keadaan ketakutan,
sayanya juga kebingungan.
Saya langsung menduga
ada yang kesurupan, maklum di gunung. Tapi api di luar yang membuat terang
membuat penasaran, lama cari headlamp gak ketemu, saya langsung buka resleting
pintu tenda dan tengok ke luar. Ternyata bukan kesurupan, ada seorang pendaki
perempuan yang ingin masak dan menyalakan kompor gas tapi kompornya meledak. Si
korban masih histeris, tapi sudah dikerubungi teman-teman tendanya dan sudah
diberi pertolongan. Saya tidak bisa lihat lagi, karena makin banyak yang
mengerubung. Saya kembali masuk ke tenda mau cari headlamp dan  menenangkan Cinta, siapa tahu dapet pelukan
lagi, eh Kagakk ehhehhe.
Nguping dari tenda,
ternyata si korban terbakar kakinya parah, karena api menyambar kaus kakinya,
jadi lama juga menempel di kakinya, itu yang membuat dia histeris dan lukan
bakarnya menyebar. Karena yang bersangkutan sudah diurus oleh rekan-rekannya,
saya meneruskan tidur sambil melorot lagi.

 

SUMMIT ATTACK

 

Badan saya rasanya
lemas dan rasa kantuk ditambah udara yang super dingin membuat saya malas
menanggapi teman-teman yang membangunkan untuk persiapan Summit. Dari dalam
tenda kami mendengar para pendaki sibuk dan saling membangunkan untuk melakukan
Summit. Sambil ngulet lagi dan membetulkan sleeping bag, saya tanya ke Cinta, “Cin,
mau summit?” “Iya mas ayo”, jawabnya.
Sejujurnya saya males
Summit karena BT selama pendakian kami seperti pendakian duo, padahal kami ikut
even penmas. Sejak dari Jakarta sampai Bambangan, bahkan mencari lahan tenda,
kami mengurus semuanya sendiri, itu yang bikin BT.
Tapi saya sadar, kami
kan ke gunung selain untuk menikmati keindahan alamnya, kami juga punya tujuan
lain, yaitu puncak dan narsis bawa bendera AWASPALA. Sedangkan saya tidak akan
lupa membawa sesuatu, kejutan untuk Cinta yang masih tersembunyi di day pack.
Bergegas kami persiapkan makanan dan minuman, serta perlengkapan narsis kami.
Kami ternyata dimasukkan ke kelompok kedua, sambil menunggu yang lain siap,
kami sempatkan masak mie goreng, nikmatnya makan mie goreng senaesting berdua Cinta.
Sepanjang jalan kami
banyak menemui edelweis yang sedang berkembang, begitu indahnya edelweis bisa
kami nikmati setelah turun dari puncak. Karena pada saat itu yang edelweis yang
kami bisa lihat menjelang batas vegetasi. Matahari mulai menemani kami setelah
jalur ini.
Karena kami mulai dari
Pos 5, perjalanan muncak lumayan panjang. Kami mulai jam 2 pagi, dan batas
vegetasi kami lampaui sudah dalam keadaan terang. Setelah itu tantangan sebenarnya,
batu batu tajam yang sangat mudah membuat kami tergelincir. Kami harus
hati-hati dan kami bersyukur, cuaca pada saat kami melakukan perjalanan puncak
mendukung, tidak ada kabut. Kami berdua setuju, perjalanan muncak Slamet ini
adalah termasuk perjalanan yang berat, maungkin karena ini dilakukan pada libur
lebaran, sementara kami tidak mempersiapkan fisik dengan baik. Tapi memang
medan yang kami lalui saat itu berupa batu-batu dan pasir yang licin, sehingga
menguras tenaga.

Puluhan kali kami
melakukan break, menjelang jam sepuluh kami bisa melihat para pendaki yang
narsis di puncak. Senang sekali dan membuat semangat kami kembali bergelora. Kami
lihat ke bawah dan sekeliling, subahanallah pemandangan ke bawah indah sekali,
kami berdiri di atas awan. Awan mengelilingi gunung Slamet, sementara kami
berdiri di puncaknya.

Puncak gunung Slamet
ternyata luas juga, berbentuk mamanjang. Kami langsung narsis-narsis dan
membuka makanan favorit kami kalau muncak, nata de coco. Segarnya nata de coco
sangat berbeda kalau dimakan di ketinggian 3.428mpdl. saya bawa bendera merah
putih sebagai rasa cinta tanah air, kami berfoto bersama bendera yang
berkibar-kibar diterpa angin puncak gunung Slamet. Dari sini kami bisa melihat
indahnya Sindoro Sumbing.

 

MAY I be your …

 

Menjelang puncak
sampai selesai foto-foto tadi sebenarnya saya dag dig dug. Di tas saya ada
sesuatu, kejutan yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, kejutan untuk
Cinta. Saya mau melamar Cinta di sini, di puncak tertinggi Jawa Tengah, tapi
malu mau bilangnya, terus skenarionya juga saya masih gak ada ide. Makin ragu-ragu
lagi kalau inget pembicaraan menjelang tidur di tenda dan sebenarnya bikin saya
makin susah tidur. Tapi tekad saya untuk melamar Cinta di sini tidak berkurang,
dan saya akhirnya minta tolong teman-teman untuk bikin skenario lamaran. Saya minta
waktu saya duduk berdua nanti ada ‘pelayan’ yang membawa kejutan ini disaksikan
semua teman yang muncak pada waktu itu. Setelah itu saya ajak Cinta foto-foto
lagi cari spot yang lain sambil buying time.
 
Akhirnya ketegangan
saya makin jadi, ketika kami berdua ngobrol dan teman-teman semua mengerubungi
kami. Satu orang maju ke kami dan membawa kotak kecil berwarna ungu itu. Kotak kecil
yang  isinya aku persembahkan untuk
Cinta, dan selamanya untuk Cinta. Dia memandang ke saya lama, saya senyum
sambil memberi sinyal memandang dia untuk mengirim pesan “I’m sure”.
Saya takut Cinta
menolak isi kotak itu, tapi ada teman pendaki cewe yang ikut mengerubungi kami
bilang ‘Oh My God, pake-pake pake-pake’ saya jadi agak tenang. Selanjutnya saya
kenakan cincin kecil itu di jari manis Cinta, sambil berbisik, “Cin, aku akan
tetap melamar kamu seperti normalnya, yaitu di depan bapak kamu, tapi ini
anggap jadi khitbah hati aja.” Dalam hati saya berdoa, Cinta jangan tolak saya
dan berharap cincin ini dipakai terus. Cincin itu sudah berhasil pas dikenakan
dijari manis Cinta, saya dalam hati bilang, “oh my God, aku baru nglamar Cinta
di puncak gunung,” terbayang nanti aku bangga cerita ke anak/cucu di mana saya
melamar Cinta.

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 
Misi kibar bendera
AWASPALA sukses, misi terselubung saya juga sukses, alhamdulillah. Untuk saya
pribadi ini adalah pendakian yang tidak akan saya lupakan, selain melelahkan,
di puncaknya saya berikrar dalam hati untuk setia mendampingi Cinta.
Kami pun kembali turun
ke pos 5, tenda kami. Dalam perjalanan turun ini kami sudah ekstra hati-hati,
tetapi sempat juga saya terjatuh, kaki saya terjepit di sela batu-batu besar
itu. Sampai di tenda sudah jam 14.00, beberapa tenda tetangga kami sudah hilang,
pos 5 panas dan berdebu, ditambah tiupan angin yang membawa debu itu
berputar-putar.

 

PULANG

 

Kami berdua memutuskan
untuk lekas turun ke Bambangan, karena tidak merasa nyaman bertahan di tenda. Memang
kami lapar, tetapi bisa kami tahan untuk dilampiaskan di pos Bambangan. Rekan kami
tidak ada yang mau turun bersama kami, akhirnya kami pergi turun berdua dengan
maksud mengejar angkutan ke stasiun karena kami harus ke stasiun tepat waktu.
Biasa dari perjalanan turun kami, kecuali kami berdua mengalami robek di
celana kami pada bagian bokong terkena akar-akar yang kami lewati dan istimewanya ya saya bisa jalan bareng orang yang dikangen-kangen sambil dengerin lagu-lagu dari MP3 player hehehe. Perjalanan turun
ini kami lalui dengan santai saja sambil menikmati keindahan alam hutan tropis
gunung Slamet dan waktu pribadi bagi kami( cerita di sini untuk anak/cucu).
Satu persatu pos kami
lalui, hingga pos satu di mana kami tahu ada bakul mendoan yang setia menunggu
di pos satu. Sampai di sana ternyata tidak ada mendoan hangat, yang ada adalah
mendoan yang sudah dingin, lumayan saya mengisi perut, tapi Cinta tidak mau
entah mengapa.
Kami melanjutkan
perjalanan ke Bambangan menjelang senja, dalam bayangan kami jarak perjalanan
tinggal sedikit lagi, tapi ternyata lumayan jauh. Perjalanan turun ke Bambangan
adalah tanah berdebu pada jalur pendakian yang curam, dan terasa sangat licin,
memaksa kami harus hati hati. Kehati-hatian ini menguras tenaga dan juga wakt
tempuh. Menjelang lapangan dekat ladang penduduk, kami mendengar adzan maghrib.
Kami putuskan untuk terus berjalan, istirahat sholat di pos Bambangan. Sampai di
lapangan kian gelap, kami berhenti sebentar menyiapkan head lamp, di situ saya
merasa nyaman sekali dan ingin sekali tidur-tiduran sebentar. Pendaki lain melewati
kami dan mengajak agar segera pergi dari situ. Sementara rombongan pendaki lain
menahan diri agak di belakang menunggu semua anggotanya, sehingga setelah itu
kami berdua berjalan sepi sepanjang tegalan.
Ada keraguan sedikit
di hati saya, karena saya tidak memperhatikan perjalanan waktu memulai
pendakian ini. Kemarin itu perjalanan berkabut, dan saya tidak ingat jalan
kembali, Cuma lapangan dan ladang bawang yang jadi patokan saya.
Semakin gelap dan
sepi, sementara kami berjalan hanya berdua di sepanjang jalur itu, tidak ada
pendaki lain yang menyusul. Di depan dari kejauhan sekitar 50 meter saya
melihat orang berjalan cepat sekali dengan senter yang digoyang-goyang ke kanan
dan ke kiri. Agak lega, ada penunjuk jalan, saya ikuti terus, dan kami tidak
beristirahat sedikit pun. Anehnya, Cinta tidak melihat orang yang saya maksud.
Saya jadi ingat
cerita-cerita aneh di gunung ini, gunung Slamet, katanya banyak
kejadian-kajadian aneh yang saya sebenarnya tidak pedulikan. Tapi suasana maghrib
itu, ditambah Cinta sedang M juga, membuat saya berpikiran aneh juga, dan
perjalanan pulang itu jadi terasa tambah lama.
Lama sekali kami
mengikuti orang yang saya pikir penduduk setempat. Jadi ingat ayeg-ayeg di
Semeru lalu, perjalanan pulang ini kenapa lama berakhirnya?
Di perjalanan itu ada
yang melegakan, kami berpapasan dua rombongan pendaki yang baru naik, lega
ternyata kami tidak tersesat. Sampai di ujung sawah, kami bingung kok ada
jembatan kecil untuk menyeberang pematang. Seingat saya kemarin tidak lewat
jembatan. Ada juga jalan ke kiri, jadi bingung. Untung ada rumah penduduk, kami
kulonuwun di sana bertanya arah pos. ternyata kami memang harus lewat jembatan
itu, dan tidak lebih 30 meter adalah pos Pemuda, jadi malu nih akibat nervos
takut tersesat.

 

PENDAKI TUA YANG BAIK
HATI

 

Sampai di Bambangan
kami beristirahat di warung mbak Yuli yang tepat berada di depan pos Pemuda. Lumayan
bisa makan nasi normal dengan lauknya yang sudah dingin. Di sini kami juga bisa
bersih-bersih badan.
Saya bertanya-tanya
tentang angkutan yang berangkat ke Purwokerto, atau paling tidak ke pertigaan
Serayu. Ternyata tidak ada angkutan tetap yang ke sana, kecuali truk sayur yang
biasanya berangkat pagi-pagi sekali, tapi itu juga tidak pasti.
Beruntung kami di sini
juga bersama pendaki yang turun bertemu di pos 2, saat dia minta salonpas tadi.
Ternyata si mas ini menunggu bos nya yang juga sedang turun. Dia menawarkan kami
untuk ikut saja dengan mereka sampai Purwokerto. Waktu itu sudah jam 10 malam,
kami sudah selesai makan dan bersih-bersih. Dia juga heran kenapa sang bos
belum sampai juga. Akhirnya dari situ komunikasi kami cair juga, saya menemani
dia ngobrol mengenai pendakian, dan juga kejadian-kejadian aneh di gunung
Slamet. Termasuk hal-hal ganjil tempat saya tadi istirahat agak lama dekat
lapangan. Ternyata di situ termasuk ‘pasarnya’, pantes saya disuruh cepat pergi
waktu istirahat tadi. Untung cerita-cerita itu saya dapat setelah saya turun. Sementara
saya ngobrol, Cinta bisa tidur di dalam kamar tamunya bu Yuli.
Tengah malam
kira-kira, baru rombongan sang bos sampai, sementara penjemput sudah hampir
satu jam menunggu bersama kami. Dari ngobrol-ngobrol ini, saya baru tahu,
ternyata sang bos ini maniak gunung, usianya sekitar 60an tahun. kalau sang bos
ngajak naik, semua anak buahnya gratis tinggal bawa badan, dan mereka sudah
pernah ke berbagai gunung bersama.
Ngopi ngeteh sebentar,
kami langsung berangkat ke Purwokerto menggunakan pick up terbuka. Saya sempat
tertidur duduk di bak belakang, berisik suara teman-teman ternyata sudah sampai
di toko/rumah bos. Saya tidak tahu ini daerah mana, tapi malah kami selanjutnya
diantar anak bos ke stasiun. Sekitar jam 2 malam kami sudah di stasiun, selalu
ada orang baik dalam perjalanan kami. Terima kasih bos, Cuma saya belum sempat
tahu namanya karena saya duduk di belakang.

 

 JADI GELANDANGAN DI STASIUN PURWOKERTO

 

Masih dini hari di
stasiun Purwokerto, dan kami belum boleh masuk stasiun. Kami mencari mushola
terdekat untuk sekedar istirahat menunggu kereta kami yan datang jam setengah sembilan.
Tapi tidak ada mushola, yang ada masjid yang terkunci pagarnya di sebelah Timur
stasiun. Akhirnya kami berusaha istirahat di ruang tunggu, tapi tetap tidak
bisa tidur, karena sebentar-sebentar speaker stasiun mengganggu dengan
pengumumannya.
Cari sana sini tidak
ada spot yang bagus, akhirnya kami buka matras di depan toko roti stasiun
langsung tidur. Jadilah kami gelandangan semalam di Purwokerto. Tidur sebentar
hingga adzan subuh membangunkan kami, kami bergegas ke masjid sekalian
bersih-bersih, buat saya tidak apa-apa jadi gelandangan seperti ini asal
jalannya bareng Cinta.

 

Posted in Catatan Perjalanan, Gunung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *