Jelang Terakhir dari 3M 2013

Sore itu di hari Sabtu, 28 Desember 2013, adalah hari terakhir dari rangkaian perjalanan 3M (Merbabu, Merapi, Malioboro).

Setelah canda tawa di atas ban truk yang hanyut oleh arus kegembiraan kali Goa Pindul, tiba saatnya kita pulang menuju Stasiun Lempuyangan.

Setiap wajah memperlihatkan kecemasan karena waktu yang terlalu sempit untuk berburu jadwal kereta.

Wajah TS yang cemas tak sedikitpun menampakkan kelelahan karena tanggung jawabnya yang besar pada anggota.

Sesekali kupandangi Mami dengan cemas yang dalam. Layaknya ibu kandung akan anak-anaknya.

Di sisi lain Centhak seperti tidak rela berpisah dengan kami semua. Karena setiba di Lempuyangan nanti dia harus pulang ke Surabaya seorang diri.

Alpin dan Tebe yang selalu kelihatan gagah berani. Tegar di raut wajahnya menahan cemas sedalam-dalamnya “akankah kita sampai Lempuyangan tepat waktu”.

Kujenguk wajah-wajah ayu yang telah lelah. Dalam mobil itu Febro seperti sudah tidak mautertawa lagi. Uci dan Husna pun seperti sudah lelah.

Tapi lain dengan Bu Guru. Hatinya mungkin penuh tanya karena harus turun dari mobil untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Seperti Chacha yang masih punya misi khusus di tanah Jawa itu.

Aku sesekali menghela napas sambil berbisik “all is well… all is well…

 

Dalam mobil dengan cuaca panas

Penumpangnya berhati cemas

Seorang sopir yang sabar melajukan mobilnya dengan penuh kepastian

Sementara wajah-wajah cemong itu sudah tak ada yang berteriak “Awaspalaaa” “Ya’eee”

 

Jelang terakhir dari 3M 2013

 

Aku rindu…

 

 

 

Herman Masduki

21 Maret 2014

Posted in Catatan Perjalanan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *