Keluarga Awaspala

Lanjutan : NamaKu Awaspala

Masih jelas teringat satu tahun yang lalu, bagaimana keceriaan terpancar dari wajah-wajah ke 12 orang itu, ikatan persahatan, persaudaraan begitu terlihat dari kekompakan mereka .

Teringat mereka diharuskan memakan cabe rawit yang harus dikunyah dan ditahan dimulut tanpa minum..pedih dan perih rasa nya mulut menahan, hingga air mata bercucuran mengalir di wajah-wajah riang itu.. bahkan Centhak yang saat itu mengatakan tidak pernah makan cabe harus merelakan sakit perut dan buang-buang air besar sepanjang malam, senyum kecil mengingat kenangan itu.

Rasa persahabatan menghapus semuanya hingga menjadi tawa riang ,bagaimana bodohnya mereka mau menerima hal itu..ya ,inilah keluarga AWASPALA..bahkan hal-hal yang sulit pun mereka harus rasakan sama-sama.

Kembali ku tatapi foto satu-persatu wajah-wajah itu..1 tahun berlalu,mengingat kembali bagaimana kami bertemu dan mencetuskan komunitas AWASPALA. Wajah-wajah yang siap untuk memberikan tangannya, wajah-wajah yang siap memberikan waktunya, wajah  yang siap memberikan sebagian rejekinya, wajah yang siap untuk memberikan tenaganya, dan wajah yang sepenuh hati memberikan keceriaan bagi satu sama lainnya. Semakin menegaskan bagaimana dan siapa mereka ini.

Tidak selalu indah bagi mereka perjalanan 1 tahun ini, kadang hitam..kadang putih.. kadang violet.. kadang jingga..semua warna, semua rasa bagai di aduk- aduk dalam satu loyang yang entah rasanya seperti apa. Hingga waktu yang membuktikan kedewasaan mereka dan membuat komunitas AWASPALA ini semakin kuat dan solid.

Bagaimana kopdar-kopdar ke 1 hingga ke 11 yang masing-masing mempunyai keunikan di setiap kopdarnya, keunikan – keunikan yang selalu bisa membuat tersenyum jika mengingatnya, kapokk?? Tentu tidak!!

Penmas-penmas yang sudah dilalui, wajah-wajah baru datang mewarnai AWASPALA, Cikuray, Merbabu+Merapi , Gede, membawa generasi-generasi baru AWASPALA. Bagaimana Cikuray memberikan pengalaman bagi mereka untuk memyeleksi peserta, menyiapkan lahan untuk mendirikan tenda dan cara pendakian yang kurang keakrabannya ,demikian curhat salah seorang peserta, bagaimana merbabu+Merapi yang secara keseluruhan acara berjalan lancar baik peserta dan cuaca dan bagaimana penmas Gede yang saat itu hujan deras, membuat panitia kalang-kabut, menghadapi peserta yang kelelahan, bahkan hypo dan yang hampir hypo.

 

Pertemuan AWASPALA dengan generasi kedua

Doel

Pertemuan dengan Doel di Penmas cikuray yang pada awalnya hanya seorang peserta  yang peralatan mendaki nya saat itu boleh dibilang biasa-biasa saja, kadang panitia acara kurang mengenal nama-nama peserta, khusus buat Doel, para panitia sangat mengenal Doel hanya dengan mengingat  warna kulitnya (hehe..) , menjadi panitia Penmas Gede, telah membuktikan seorang Doel bisa diandalkan, tidak mengenal lelah menghadapi peserta dan bahwa pada akhirnya bisa menjadi seorang TS (trip started) di pendakian Prau, Dieng AWASPALA. Sigap dan siap membantu..itu mungkin yang dirasakan para peserta pendakian Prau, TWO THUMBS !!

Pun Pertemuan dengan Alpin di penmas cikuray, yang juga peserta saat itu, tidak terlihat penampilan seorang pendaki pada Alpin, Panitia mengira mungkin hanya peserta/jomblo yang kurang acara (piss,pin…)..orangnya ramai dan sigap waktu pendakian Cikuray, barang bawaanya selalu sebesar kulkas, berattt gak???..Jangan di tanya lagi. Tas nya yang besar selalu jadi langganan menaruh tenda kapasitas 6 orang.  Dan kemudian menjadi panitia Penmas Gede, keberadaannya sangat membantu saat itu, di saat cuaca yang tidak mendukung, peserta yang kelelahan. Sigap membantu panitia yang lain.

Alpin

Seorang peserta lain yang pendiam, dari logat bicara nya pasti bisa dikenali, orang jawa, inilah kesan pertama pertemuan dengan Rudi di penmas Cikuray.  Orang nya  ringan tangan walaupun jarang bicara. Bahkan terdiam juga saat prosesi makan cabe di Gn. Pancar, sigap tangan nya saat menunjuk kan cabe di depan kamera tapi seketika wajah nya memerah sesaat mengunyah cabe..senyum lebar di tahan para Founder AWASPALA, saat  melihat wajah-wajah memerah menahan pedih perih cabe rawit di mulut..  .Menjadi panitia Penmas Gede, saat itu  diamnya bukan berarti tidak peduli, bukti nya dia rela membawa bawaan peserta. Dan dengan senang hati membawa berkilo-kilo jagung utuh untuk anak-anak AWASPALA pada saat kopdar di salah satu rumah founder.

Ada juga seorang guru, Arti. Pertemuan pertama dengannya di penmas Cikuray, dia juga pendaki tangguh atau lebih sering dipanggil pendaki sadis karena tiada lelahnya saat pendakian padahal yang lain sudah kehabisan nafas dan tenaga.
“ wah kenapa bibir ku “ itulah yang terjadi pada Arti saat pendakian Merbabu-Merapi, bibirnya tiba-tiba menjadi besar seperti tersengat tawon,  yang lain tidak banyak bicara hanya senyum ditahan saja.  Membayangkan wajah Arti saat prosesi makan cabe..?? berusaha menjelaskan mati-matian bahwa selama hidup nya TIDAK pernah makan cabe mentah,apalagi rawit.. tapi penjelasan panjang lebar Arti bagai angin lalu buat para Founder AWASPALA.  Ancang-ancang diambil Arti dengan menyiapkan aqua 1500 ml, makanan kecil di sekitar tangannya, dengan mulut yang tidak berhenti komat kamit (dzikir keleusss..)

Arti

Kesan yang lainnya datang dari pertemuan dengan Caca di penmas Cikuray, peserta yang saat itu lagi di “modusin” oleh salah satu panitia, ciyeee..tapi berakhir dengan….(Ah sudahlah..*kata moo*) penampilan nya  santai, tapi jangan kira saat di trek, dia seorang pendaki tangguh dan kuat. Sakitttt rasanya melihat caca summit hanya dengan membawa tas pasar di saat yang lain memakai pakaian lengkap, jacket wind breaker  fully sealed dan lain lainnya.  Saat penmas Gede, seorang caca amat perkasa, untuk ukuran seorang wanita, entah apa yang dimakannya …seingat penulis jarak dari lokasi tenda (dekat mata air) ke tengah-tengah lapangan surya kencana cukup jauh, tapi ini anak, bolak balik bersama Doel hanya untuk mengatur peserta.. cant believe it..

Caca

Pribadi yang kocak, Herman. Itulah kesan pertemuan dengan pendaki ini di penmas Cikuray, peserta dari bogor, teman dari salah seorang panitia..senyum kecil saat melihat sosok herman di bis menuju Garut.  Kaget melihat sepatu yang digunakan herman saat pendakian Cikuray, jika yang lain masih ingat, Herman menggunakan sepatu kets dan jaket yang bukan khusus outdoor, Jelas bukan gambaran anak gunung.  Ramah, selalu tersenyum dan selalu punya cerita lucu yang siap dibagikan ke teman perjalanan, entah itu  cerita “garing” bagi yang mendengar nya, entah itu cerita yang sudah pernah kita dengar sebelumnya, tapi seorang Herman akan selalu semangat dengan ceritanya.  Cekatan dan tidak segan menolong siapapun, selalu ada di setiap penmas-penmas AWASPALA selalu meramaikan grup Whatsapp saat sedang sepi. Di gunung Pancar, Herman satu-satu nya anggota AWASPALA yang senang hati mengunyah cabe rawit merah, bahkan minta dua cabai, heh..stress apa laparr?!  Bahkan wajah nya penuh senyum melihat cabe di depan matanya, minta air?? Kagakk!! . Target menikah pun tidak menjadi halangan bagi Herman untuk bisa ikut acara-acara AWASPALA yang sering kali mengganggu kestabilitasan tabungannya.

Herman

Pun pertemuan dengan Syiva di penmas Cikuray, seorang peserta yang cukup diam, tapi tidak pernah menyusahkan selama pendakian.  Di gunung Pancar Syiva yang biasanya jarang hadir, kali ini menyempatkan datang dan mengikuti prosesi makan cabe..dan sekian kalinya Syiva menjelaskan bahwa mempunyai sakit maag, tapi dihiraukan oleh para Founder.  Dan akhirnya semalaman Syiva merasakan sakit perut

Syiva

Wenda

Nama lainnya yang muncul adalah Wenda di penmas Cikuray, seorang peserta yang cukup diam, panitia dan banyak yang mengira Wenda seorang wanita, sewaktu chatting di grup Whatsapp,  tidak terlalu banyak bicara, entah ini pendakian ke berapa buat Wenda, tapi selama pendakian cukup membantu panitia acara, dengan membantu peserta lainnya.

 

Pribadi unik lainnya adalah mas Erich,seorang peserta dari  provinsi terjauh, terujung Indonesia, Papua, yang kali ini menyempatkan ikut,  yang diketahui seorang dokter tengah menyelesaikan pendidikan S2 nya di UGM.  Saat pertama kali bertemu, perlengkapan pendakiannya sangat lengkap, membawa 2 trecking pole, awal nya kelihatan lebay, untuk ukuran gunung Cikuray tidak perlu sampai bawa 2 treking pole, tapi akhirnya penulis yang kebetulan satu grup mengerti, ketika ada peserta yang cidera,2 trekking pole ini sangat membantu. Dia selalu membawa GPS yang di setiap pos nya selalu di rekam jejak, serta membawa makanan yang cukup bergizi, (dokter yekann..) sayang beliau jarang sekali ikut kopdar atau acara AWASPALA karena keterbatasan waktu dan jarak.

Erich

Salah satu fans berat Sheila on 7 dan selalu berusaha ada di setiap konser-konsernya, “ aku stress”  kata Ari , dijawab “ stress kenapa “  , Ari menjawab “ mamih ga kirim-kirim undangan”  what ??!! (garuk tembokk) ,  si jago komen dan bawel, Seandainya ada perlombaan per ceng-cengan, bisa dipastikan Ari  juaranya. Pertemuan pertama kali dengan Ari wajahnya biasa saja, dan tidak mendapati kalau ia jago nge-les dan komen, dan ga akan berhenti komen sampai lawan bicaranya jedotin kepala..ciyus, ga boong.  Sempat kagum saat Ari menyelesaikan pendidikan S1 nya tepat waktu, bahkan lebih cepat, dan bisa jadi “penyemangat” bagi yang lain, yang sedang berjuang dengan skripsi nya.

Ari

Belum lengkap kalau belum menyebutkan Tebe. Pertemuan pertama di pendakian Merbabu+Merapi, dari wajahnya terlihat orangnya cukup sabar, entah apakah ia akan sabar jika harus menagih hutang (penulis curhat..*biarinn) , terlihat kesabarannya saat mendaki, di saat yang lain sudah ngacir cepat, ia akan sabar meniti tanjakan demi tanjakan tanpa menghiraukan yang lain.  Mungkin karena sabarnya sering menjadikan ia superr Lelet.  Selalu berpikir Positive thinking dengan keadaan, dengan siapa dan dengan apapun itu, walaupun tenda yang sudah dipinjamin rusak atau hilang frame atau robek, jadi jangan segan-segan kalau mau pinjam barang apapun sama orang satu ini, dijamin bakal dikasih, kalau pinjem duit gimana…??? (*ditabokk)

Tebe

“halo, aku Ria” dengan cepat Ria memberikan tangan nya dan menjabat tangan penulis, Penuh senyum  & perhatian itulah hal pertama yang dirasakan saat bertemu dengannya di stasiun kereta, saat Pendakian Merbabu+Merapi.  Memperhatikan Ria saat penmas Gede, di saat menjelaskan mengenai tim yang didampinginya dengan sangat jelas, terperinci , kebaikan, keburukan Tim, bisa di ambil kesimpulan kalau si penggila sheila on 7  ini  fokus untuk hal yang sedang dikerjakan.  Pernah disuruh membawa oncom, iya oncom..sempat bertanya-tanya bagaimana bisa membawa oncom dengan kondisinya yang lembek, tapi inilah kegigihan Ria, oncom tersedia tanpa busuk atau pun bau setelah berhar-hari.

Rialita

Rame kalau ada uci di grup, “yekannnn”, “BHAY!!” , “ Akik” dan bahasa – bahasa lain yang khasnya Uci.  Di setiap pendakian , walaupun uci ini rada-rada menyusahkan, dengan hobbynya “menggelinding” tapi Uci bisa membuat suasana ceria dan tidak pernah berhenti tertawa. Pertemuan dengan Uci awalnya di penmas Cikuray, adik kelas salah satu Founder Awaspala,  dan saat itu belum menjadi anggota. Prosesi makan cabe uci di kopdar gunung Pancar, si anak manja ini seperti mau menangis , sama seperti ia menangis melihat tanjakan di Merbabu.  Ragu sempat melintas di kepala Founder Awaspala, “beneran ga sih anak manja kayak gini ikut komunitas kita” , salah satu founder bergumam, tapi kesungguhan uci pun teruji, dengan bolos kuliah , bohong sama orangtua demi bisa pergi ke acara atau penmas AWASPALA (dont try this at home!!)

Uci

Ada kenangan sendiri dengan Husna , saat Pendakian Merbabu, pertemuan pertama kali dengan Husna di stasiun kereta pasar Senen  , orangnya berisik, rame dan suara nya seperti towa.  Awalnya Husna mengenal awaspala dari Twitter dan kawan nya sendiri.  Baru merasakan kedekatan dengan Husna saat satu tenda di Merbabu, “na, aku mau pup” , dijawab Husna “ayo,mih” , dan dua wanita itu pun mencari spot saat yang lain sudah tidur, “ Mih, dibawah pohon gede itu aja” , dijawab “ enggak, na..takutt” , dan akhirnya kedua wanita ini pup dibelakang tendanya sendiri!! sodara-sodara !! dan bukan itu saja, ada hal yang …(*disensor penulis).

Husna

Si empunya “hihi” , setiap kali chat dengan Acuy, Anda akan menemukan empat huruf ini, dan anak-anak AWASPALA sudah maklum.  Sebenarnya cukup beruntung memiliki Acuy di AWASPALA, karena keahliannya dalam mengambil gambar dan video, dan hasil gambar atau video yang dibuatnya bukan abal-abal atau sembarangan, dan yang paling PENTING , kita bisa menikmati hasil gambar dan videonya secara Gratis. Pertemuan Awaspala pertama kali dengan Acuy saat pendakian Merbabu+Merapi, dengan membawa perlengkapan “perang” nya , dan pada akhir nya anak-anak AWASPALA menikmati hasil dari peralatan “perang” acuy.  “Acuy , hilanggg” teriak anak-anak, saat kopdar di Kebun Raya Bogor, dijawab “ ah,tapi gw liat motornya di parkiran kok” , semua wajah tertunduk sedih, pasrah dan mengheningkan cipta (lebayy ahaha)., Sedih bukan karena Acuy yang hilang, tapi hari itu adalah perdana pemutaran video trailer Merbabu+Merapi  AWASPALA, setelah semalam suntuk begadang, sia-sia kalau ga ada Acuy.

Suryadi

“ayo li, pimpin doa” yang lain menyerukan , “ kenapa gw”  jawab Halili , “ ya , kan lu ustad di sini” jawab yang lain.  Sepenggal obrolan saat penmas, ritual pimpin doa kemudian disematkan ke Halilintar, yang sering di panggil ustad (aminn..) . kenapa Halili di panggil ustad?? Karena, rajinnya Halili beribadah dimana pun berada, catettt. Pertemuan dengan Halili saat pendakian Merbabu+Merapi.

Halili

Mengharukan waktu halili mengirimkan pesan “ kita galang dana buat Boim yuk”,  waktu itu Boim memang sedang kena musibah kecelakaan dan kehilangan Handphonenya, dan belum ada yang mencetuskan ide galang dana sampai Halili yang memulai.  Satu-persatu anggota memberikan sebagian rejekinya, dan hal ini yang paling membanggakan di Keluarga Awaspala, begitu cepat respon penggalangan dana untuk membantu sesama anggota yang terkena musibah.  Tidak menunggu berhari-hari untuk mengumpulkan dana, mereka dengan sukarela hari itu juga atau keesokan harinya sudah memberikan dananya.

Ingat Febri, Ingat Kue, setiap liat DP foto bb nya selalu dipajang cake blackforest, atau tiramisu , atau rainbow cake, atau cake lain nya (ahh jadi lapar) dengan hiasan kue nya yang unik, lucu dan menggemaskan., kadang bergumam “enak banget kayaknya” . tapi bukan Febri ternyata si pembuat kuenya, temannya yang buat. Pertemuan dengan Febri di pendakian Merbabu+Merapi, wajahnya imut, orang nya terkesan diam dan jarang bicara, tapi penggila sheila on 7 ini ternyata tukang jalan juga, saat pendakian Febri termasuk kuat , jarang mengeluh dan suka membantu juga.

Febro

Unik Dengan kepribadian yang berbeda-beda, latar belakang yang berbeda, suku dan agama yang berbeda , tidak menjadikan halangan untuk mereka menyatukan satu tujuan untuk menjelajahi tempat-tempat di negeri ini dan melestarikannya.

Filosofi cabe sudah dijalani selama satu tahun ini, semua rasa sudah dirasakan bersama, menikmati puncak-puncak gunung di Indonesia bersama, menikmat dinginnya malam bersama, menikmati terik panas nya matahari bersama, menikmati terbitnya matahari bersama, menikmati terbenamnya matahari bersama, menikmati deburan ombak pantai bersama, menikmati rasa lapar dan haus bersama.

Sampai bertemu di generasi ketiga Awaspala, atau bahkan generasi keempat dan selanjutnya.

-LINA-

Posted in Catatan Perjalanan.

5 Comments

  1. Mamiihhh..
    Waww rinciii sekalii Mam.. emang yaaa seorang mamih mengenal sekali anak2nyaaa..

    Akhirnya aku tau apa itu yg dibelakang tenda huehehhee
    *tutup idung*
    *ngacir*

    • Wah, postingnya tetnnag plesiran ke gunung ya? Gunung apa tadi, Merbabu? Itu kayak nama merek dagang sebetulnya merek dagangnya yang ngikutin sih, tapi, ah, lupakan.Seru banget, pingin banget aku tuh dari dulu punya pengalaman kayak gini, tapi belum ada yang ngajak, hehejadi kalau nanti mau ada jadwal lagi, ajak-ajak ya kak :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *