Pahawang Punya Cerita

Berawal dari iseng-iseng browsing sosmed, ketemu thread-nya si Dul “pangeran berkuda putih”, trip share cost ke Pahawang buat tanggal 13-15 Maret, langsung tertarik dengan trip-nya karena sesuai sama jadwal kerja dan jadwal kunjungan keluarga, kemudian saya booked untuk 4 orang; saya, mantan pacar, dan 2 orang teman kantor.

Satu hal masukan buat Dul, kenapa acara ini ga dimasukin ke program kerja Awaspala Dul?? Why? Why?… kan menambah keterkinian, ke-“update”-an Awaspala di mata dunia *haha lebay saya kembali kumat. Untuk menandakan kepesertaan maka diwajibkan untuk mentransferkan sejumlah uang sebagai tanda jadi, dan saya lihat dari thread tersebut hampir seluruh peserta berasal dari anak-anak Awaspala, ya sudah makin klop aja perjalanan kalau bersama mereka.

Itin kurang lebih begini, silahkan yang mau nyontek :

Jumat,13 Maret
23:00                       kumpul di pelabuhan Merak
24:00                       kita nyebrang ke Bakauheni

Sabtu,14 Maret
04:00                       nyampe di Bakau, solat subuh trus sarapan dulu
05:00                       otw ke Pelabuhan Ketapang
08:00                       Pelabuhan Ketapang ke homestay di Pulau Kelagian
09:00 – 17:00       kita maen aer snorkling di Pulau Pahawang, Tanjung Putus dan yang laennya
17:00 – 24:00       istirahat di homestay

Minggu, 15 Maret
07:00 – 12:00       snorkling lagi dan persiapan pulang
12:00 – 17:00        kembali ke Pelabuhan Bakauheni, sekalian belanja oleh-oleh kalo ada yang mau belanja
17:00 – 21:00        penyebrangan ke Merak
21:00 –                     Pelabuhan Merak pulang ke rumah masing-masing

Setelah transfer DP pada siang hari, malam harinya saya bilang ke mantan pacar kalau saya sudah booking untuk 2 orang perjalanan ke Pahawang bersama Dul, tapi ternyata pasangan hidup saya ini sudah punya jadwal lain. Sempet agak sebel, kecewa, tapi ya sudah berarti hangus DP yang sudah saya transferin buat dia, berusaha tetep semangat dan membulatkan hati.

Hari yang ditunggu tiba, Jumat tanggal 13 Maret sekitar jam 19.00 malam saya bersama 2 rekan kerja berangkat dari kawasan Sudirman dengan mengendarai kendaraan pribadi menuju Pelabuhan Merak, dengan perkiraan tiba di Merak sekitar jam 22.00 malam. Memang perjalanan dari Jakarta ke Merak memakan waktu sekitar 3 jam, jika naik kendaraan umum bisa dari Slipi atau dari Kampung Rambutan dengan biaya sekitar Rp 25.000, sedangkan jika naik kereta dari Tanah Abang dengan jurusan Stasiun Merak akan memakan waktu 3 jam, dan jadwal paling malamnya jam 18.05 sore dengan biaya Rp 5.000 (murahhhhnyooo).

Waktu menunjukan jam 22.00 malam. Sambil menunggu kawan-kawan yang belum datang, saya makan malam dulu di restoran Simpang Raya, yang berlokasi di Jalan Raya Merak. Jam 24.00, tengah malam, kami bersepuluh kumpul di Dunkin Donut Pelabuhan Merak; Dul, Marini, Alpin, Ria, Eza, Dila, adik Dul, saya, Tia, dan Hitho. Biaya untuk menumpang ferry dari Merak ke Bakauheni sebesar Rp 15.000,- dan sebaliknya. Perjalanan ferry memakan waktu 2 jam, dan setiap 1 jam sekali ferry datang begiliran untuk menyebrang.

Jam 01.00 pagi kapal ferry kami berangkat dari Merak, tiba di Bakauheuni jam 3.30 pagi. Sampai Bakauheni kami semua berkumpul dan mengumpulkan kembali “nyawa” kami untuk tetap “sadar”. Mobil jemputan datang sekitar Jam 04.00 pagi, kembali kami melanjutkan perjalanan dari Bakauheni menuju dermaga ketapang yang memakan waktu sekitar 3 jam, kembali kami melanjutkan tidur di dalam mobil sambil kepala kejedot-jedot karena jalanan yang rusak.
Mata enggan sekali dibuka ketika sampai di Dermaga Ketapang, yang waktu itu menunjukan jam 07.00 pagi, tapi kami dipaksa keluar dari mobil untuk segera melanjutkan perjalanan ke Pulau Pahawang. Setelah sarapan dan recharge tenaga, perjalanan akan dimulai kawannnnn…lalallalayeyeye, senang bahagia sentosa gembira cerah ceria haha.

Day 1
Perjalanan dengan boat dari Dermaga Ketapang menuju Pulau Kelagian.
Kenapa ke Pulau Kelagian? Karena di sini tempat homestay kita. FYI, di sini ga ada listrik, yang ada cuma genset. Itu pun cuma untuk lampu saja, kipas angin, charge hp, yang nyala mulai jam 18.00 sampai jam 06.00. Jadi siap-siap bawa power bank kalau mau ke sini. Jam 08.00 pagi setelah ganti kostum, kami bersiap menuju Pulau Pahawang, Pulau Tanjung Putus sama Pulau Pahawang Kecil. Jangan lupa bawa sun block kalau ga mau kulit kamu meng ‘hitam’ di sini. Cuaca cerah cenderung panas selama bulan Maret di Pulau Pahawang.
Sekitar sore jam 17.00 kami kembali ke homestay, mandi dan ganti kostum lagi, lanjut menunggu sunset di bibir pantai ini. Ada pemandangan yang romantis selama perjalanan ini, yaitu Dul dengan Marini yang sepertinya tidak bisa dijauhkan satu sama lainnya *eaaaa..haha dan saya membayangkan suami saja sudah cukup membayar kerinduan *eaaaaa..hhaha

Habis memburu sunset, kami bersepuluh menyiapkan api unggun untuk acara nanti malam. Sebenarnya acara ini saya tunggu-tunggu untuk membangun hubungan dengan anak-anak Awaspala sebagai pembalasan “kehilangan” waktu saya dengan mereka, tapi saya malah tidur karena flu menyerang *maaf yaa mamihnya tidurrr..

Day 2
Jam 08.00 kami dibangunkan dengan suara Eza yang falls, tidak merdu, dan nyaring sekali. “Sarapan-sarapan,” berkali-kali dia meneriakan itu sampai bosan dengernya. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan lagi untuk snorkling dan langsung balik ke Dermaga Ketapang. Sekitar jam 12.00 kami sudah tiba di Dermaga Ketapang, segera mandi, ganti baju, dan repacking karena mobil jemputan sudah datang, siap mengantarkan kami kembali ke Bakauheni.
Dalam perjalanan dari Dermaga Ketapang ke Bakauheni kami direkomendasikan oleh supir mobil untuk mampir ke bakso yang terkenal di Lampung, namanya Bakso Pak Jhon. Kalau dari rasa menurut saya ga ada yang khas, di Jakarta pun bisa mendapati bakso dengan rasa yang sama dengan yang ini. Jadii, kurang lah menurut saya.

Dari tempat Bakso Pak Jhon lanjut cari oleh-oleh. Puas berbelanja oleh-oleh cuss ke Bakauheni sekitar 2 jam perjalanan. Jam 17.00 tiba di Bakauheni, segera kami sholat dan membeli nasi bungkus untuk makan malam. Setelah itu langsung menuju konter tiket ferry menuju Merak.

Ferry di Bakauheni lumayan bagus ketimbang waktu berangkat dari Merak. Meski lelah, di atas kapal ferry mata memandang lautan sepanjang perjalanan ini, melihat wajah-wajah di kapal ferry ini dari tukang tahu,supir truk, anak-anak Awaspala yang bersenda gurau dan yang bertukar foto dari gadget masing-masing. Selagi saya sibuk menikmati semua itu, sebuah sms masuk, berbunyi, “mau dijemput dimana” ahhk jadi kangen sama pengirimnya.
Menjelang jam 20.00 malam tanggal 15 Maret 2015 kami pun tiba di Merak, saatnya berpisah dengan satu persatu anak-anak Awaspala. Sampai ketemu kembali teman, selalu merindukan perjalanan dengan kalian. Dan saya melanjutkan perjalanan ke Serpong. Seseorang sudah menunggu untuk menjemput saya di sana.

Posted in Catatan Perjalanan, Pantai.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *