Puncak Ayek-ayek

Semeru 2013
3 tahun lalu, Entah bagaimana waktu itu TS punya ide untuk melewati ayek-ayek untuk menghemat waktu perjalanan menuju ranu pane. Setelah Casper, Yusuf dan Suami dengan versi mereka sudah memposting menceritakan perjalanan ini.

Jalur Ayek-ayek, uhmm ga kepikiran saat itu kalau lewat jalur ini banyak / tidak jarang memakan korban, karena jalur nya yang lumayan Licin,ekstrim,tebing yang curam,dan setelah saya melewatinya memang ga disaranin untuk dilewati juga menurut porter saat itu.

Cuma mengikuti yang lain waktu TS bilang lewat jalur ayek-ayek,ok fine lets beat it

Apa? Kok bisa ? emang boleh ? tanya teman saya waktu saya ceritakan pendakian semeru melewati jalur ayek-ayek , saya menjawab “ya bisa nih buktinya gw selamat sentosa bahagia hehe” padahal dalam hati bersumpah serapah Kalian ga tahu apa yang sudah saya lalui dan tidak akan pernah lagi ini terjadi

Waktu itu 8 Juni 2013, turun dari Kali mati sekitar jam 2 siang, kita ber 12 orang bersiap menuju ranu pane, dan berencana tidak camp di ranu kumbolo. Baiklahhh…cuss

Perjalanan memakan waktu 3 jam untuk Sampai di Ranu Kumbolo, kami tiba di Ranu kumbolo sekitar jam 5 sore, dan cuaca sudah gerimis, dan setelah tiba di pos ranukumbolo yang katanya ada toilet, sambil menggunakan jas hujan karena gerimis sudah berubah menjadi hujan deras, team mulai memutari bukit,saya bertanya kok ga naek keatas ,malah muter ? kebetulan rekan dibelakang bilang “kita lewat ayek-ayek” saya dengan polosnya “ ohh kenapa?” dijawab “lebih cepet sampe” dalam hati saya berkata “asikkkkk yeyeyelalala”

Kata asik lalala saya sesali setelah sampai di puncak ayek-ayek,huft….

Saat itu waktu sudah Magrib ,mulai gelap dan hujan semakin tidak ramah, head lamp sudah dinyalakan, Langkah mulai tertatih ketika tanjakan ayek ayek yang Maha Licin dilewati,tangan saya sudah kotor dengan tanah & mulai menggigil menahan dingin sambil mencoba meraih ranting-ranting pohon agar tidak jatuh terpeleset.

Satu persatu teman saya lihat sudah mulai bersusah payah dan berusaha dengan tenaga yang ada, “nyonya” mengeluhkan lama sekali perjalanan,jangan bayangkan sandal yang dikenakannya, cukup menggelengkan kepala saja titik. (baca bukan sandal gunung) ,boim yang saat itu membawa-bawa sekarung sampah dilemparkannya ke jurang karena kesal mendengar keluh lelah sang “nyonya” Saya pun sebal mendengarkannya

Sangat lelah ditambah hujan dan gelap,benar benar membuat frustasi, menggunakan sandal gunung Casper yang saat itu saya pinjam, dan menyesal kenapa tidak menggunakan sepatu gunung, medan yang licin amat sangat menyusahkan ditanjak dengan menggunakan sandal gunung.

Tiba-tiba rombongan kami terhenti di jalur mendekati puncak ayek-ayek, rombongan kami tidak bisa menaiki satu tanjakan yang lumayan licin dan tinggi, sampai kami meminta bantuan salah satu rombongan didepan untuk menolong menarik tangan kami dari atas.

Jangan tanya bagaimana tampang kami saat itu, hanya satu tujuan kami,Segera tiba di ranupane dan segera melalui malam itu.

Ditengah hujan yang gelap,Orang yang baik hati ini menggunakan jas hujannnya untuk menarik kami satu persatu keatas, dan setengah rombongan kami sudah tiba di puncak ayek-ayek.
Saya lihat jam saat itu menunjukan jam 8 malam, puncak ayek-ayek tidak terlalu luas,hanya bisa untuk mendirikan satu tenda,hujan & gelap menambah horor keadaan saat itu dan saya perhatikan chentak seperti cacing kepanasan saat itu, tidak bisa diam,berpindah tempat terus menerus,hmm saya pun ingin seperti itu tapi hanya diam dan menguasai diri agar tetap tenang.

Dan cerita kehororan malam itu saya ketahui setelah selesai pendakian.

Tidak lama kami berdiri, seorang porter menghampiri kami dan memberitahu kalau salah satu kawan kami dibawah terserang hypotermia, dan mereka yang dibawah itu ada TS,barkah,Moo dan Mas-mas yang nolongin kita dengan jas hujannya.

Centhak bergegas turun ke bawah dan disaat kita memikirkan siapa yang terkena hypo,Nyonya masih ribut kedinginan,ggrrrrrr…

Lama menunggu akhirnya hafit dkk berhasil menggotong Mas-mas yang nolongin kita dengan jas hujannya yang saya tahu namanya Argo. Ternyata beliau ini terkena hypo kedinginan karena jas hujannnya dipakai untuk nolongin kita, hmm so priceless moment (baca pengalaman berharga)

Pingsan, bangun,pingsan..Boim tampar pipinya berulang-ulang kali agar beliau tetap sadar, sedangkan kawan seperjalanan beliau 2 orang sudah tampak menangis dan menjerit “Mas Argo jangan mati Mas, ingat anak istri Mas”

Centhak bergegas membuka baju nya tanpa disuruh , langsung menempelkan tubuhnya ke Mas Argo ,salut padahal centhak pun sedang sakit dan tidak bisa muncak ke mahameru waktu itu.

Boim segera membuat api dan memanaskan air ditengah hujan dan tangan yang menggigil menyalakan korek api yang susah sekali dinyalakan,air panas diberikan ke Mas Argo.

Yusuf mengeluarkan flysheet , tapi tidak bisa dipasang karena lahan yang sempit dipuncak ayek-ayek, terpaksa kami pegang dengan tangan.

Saya dan Casper dengan kondisi kedinginan duduk dibawah flysheet berusaha menghangatkan diri dengan memakan coklat.

Akhirnya Mas Argo sadar setelah susah payah kita gampar dan peluk, segera kita dirikan tenda darurat di atas lahan yang miring, untuk menghangatkan badan beliau, dan memulihkan kesadarannya.

Segera Hafit memutuskan agar sebagian rombongan kita turun ke ranupane terlebih dahulu, Hafit,Moo & chentak berencana tetap di Puncak ayek-ayek sambil menunggu kondisi Mas Argo membaik.

Dan saya ada di dalam rombongan yang turun, Ke-Horor-an tidak berhenti disini ternyata,dan kami mulai perjalanan dengan posisi Yusuf yang memandu didepan dan koko dibelakang, seperti kebiasaan kami berdoa dulu sebelum jalan,doa selesai dan perjalanan menuju ranupane dimulai,saya siapkan headlamp dan batre, tidak lupa pasang lagu-lagu “One republic” diplay List untuk menemani perjalanan horor malam itu.

Salah satu lirik lagu “Say all I need-one republic” yang cocok dengan keadaan saya waktu itu, dan berulang kali saya dengarkan untuk menambah semangat
“Do you know what your fate is?”
“And are you trying to shake it?”
“You’re doing your best dance,”
“Your best look”
“You’re praying that you make it”

Perjalanan dari Puncak Ayek-ayek menuju Ranupane kita harus melewati hutan,jalanan penuh dengan pohon lebat, dan menurut porter hanya memakan waktu 30 menit untuk bisa tiba di Ranupane, ini yang menambah semangat saya “Cuma 30 menitttt,elahh” dan kenyataan berkata lain…

Ditengah perjalanan saya merasa seperti didampingi anak kecil yang lalu lalang, makkk..tetap TENANGG, fokus dengan playlist musik,dan rombongan dibelakang sudah mulai gerasak-gerusuk agar mempercepat langkah, koko berkali-kali teriak BERHITUNGG, saya mengikuti saja ketika berhitung, sambil menunduk mata tidak berhenti melihat anak-anak kecil yang lari-lari mengikut perjalanan dengan suara riuhnya.

Ditengah perjalanan head lamp saya matiii!!, saya minta untuk berhenti sebentar untuk mengganti batre, sebenarnya mereka agar berat untuk mengiyakan,tapi dengan terpaksa diiyakan tapi hanya sebentar.
Saya duduk dibawah pohon besar sambil mencari-cari batre didalam tas, koko berteriak “ayo cepetan-cepetan” saya buru-buru segera memasang batre, dan ternyata batre baru saya sudah dalam keadaan basah kena hujan, dan tetap saya pasang.

Yang lucu dalam perjalanan ini, karena tidak ada yang membawa speaker untuk memecah keheningan perjalanan, Om Yudha memasang Alarm sepanjang perjalanan, Iya bunyi Alarm kalo kita Mau bangun tidur itu guys, bayangin selama perjalanan suara Alarm yang didengarkan, dan saya masih ingat nada Alarmnya sampai saat ini.

Jam tangan saya berbunyi disetiap jamnya, dan kali ini saya lihat jam sudah menunjukan jam 10 malam, dan kami entah dimanaa…

Hilang semangat.. sudah bukan 30 menit lagi, sudah hampir 2 jam dijalan, saya melihat keragu-raguan diwajah yusuf sebagai pemandu kami,berkali-kali yang lain bertanya “bener ga jalannya” tapi Yusuf dengan wajah tenangnya tetap tenanggggg.huft..

Kaki sudah mulai lelah tapi tidak diperbolehkan berhenti,3 jam sudah berjalan dengan ransel dipundak dan hujan belum juga berhenti,” jalan terus” kata yusuf ikuti jalur air,maka kita akan turun.
Akhirnya jam 12 malam, kami melihat rumah-rumah penduduk dari kejauhan, Alhamdulilahh…tak terhingga rasa syukur saat itu, rasa lelah kaki pegal langsung tidak terasa, lega sekali.

Ternyata kami memang nyasar, kami tiba diperkampungan entah dimana, tapi bukan di Ranupane, suara anjing menggonggong menyambut kedatangan kami didesa itu, tidak ada satu pun orang yang bisa kami tanyai untuk mengetahui dimana kami sebenarnya berada atau bertanya arah ke Ranupane.
Yogi & Yusuf berpencar ke gang sebelah kiri dan kanan, mencari warga yang kira-kira bisa ditanyai, dan ternyata tidak membuahkan hasil.

Ditempat saya dan lain menunggu, ada rumah dengan mobil jenazah diparkir depan rumah, Hih horor juga ini namanya, ya sudah saya paksakan melangkahkan kaki mengetuk rumah bapak & ibu yang baik hati itu,”maaf pak mengganggu malam-malam” itu yang bisa saya ucapkan “minta maaf” mengganggu waktu tidur pulas mereka, dan akhirnya mereka berkenan memberikan petunjuk arah ke ranu pane, “kalo jalan mungkin satu Jam lagi” kata bapak itu, agak lemas sebenarnya waktu dibilang satu jam lagi perjalanan. Setelah selesai mengucapkan terima kasih, kami melanjutkan perjalanan.

Ditengah perjalanan kami bertemu sebuah truk yang berkenan mengantarkan kami ke Ranupane, dan memang benar, masihh jauh sekali menuju ranu pane.

Tiba diranupane segera kami menyerbu warung makan, pesan soto yang ternyata masih ada, sambil memberitahukan petugas setempat bahwa ada teman kami yang kena hypo di puncak ayek-ayek. Tidak lama kami makan Hafit,Moo & Chentak sudah tiba menghampiri kami, dengan mata melotot kami terheran-heran “kok cepet nyampenya” Cuma beda 15 menit dari kami, dan riuhlah gurau tawa warung makan dengan cerita perjalanan kami sewaktu turun dari ayek-ayek.

Dan Hal-hal aneh yang saya lihat di Puncak Ayek-ayek juga di rasakan dan dilihat oleh sebagian teman kami,juga anak-anak kecil yang saya lihat dijalur turun, apapun itu yang penting kami semua sudah selamat sampai tujuan.

Salam awaspala yaa’eee

Posted in Catatan Perjalanan, Gunung, Uncategorized.

5 Comments

  1. waaaaa awesome..
    kayak baca novel horor beneran sampe ikutan deg-degan.
    btw, pasti si “Nyonya” gakmau naik gunung lagi deh ahahahaa

  2. Waaaah luarrr biasa… sy terharu sambil merinding bacanya.
    Pengalaman yg pasti tak terlupakan.
    Smg AWASPALA makin kompak dan makin Yaaaaeeeee…. ?

  3. Ko saya jadi kangen ya dengan moment2 itu..
    Pendakian berharga dan membekas sampe skrng (red: mlm menuju rakum sya kpleset dan msh berasa sampe skrng. Haha).
    Salam kompak selalu.. 😉
    YaaaaaEeeeeee…

  4. Ini yg aku suka dari Centak… Kadang seperti manja kaya anak bungsu tapi gak segan segan menolong orang inisiatifnya tinggi. Kadang polos tapi terarah kemana tujuan yg mesti dia ambil

    Waw… Khas banget
    Tulisan mami itu mampu membawa khayalan kealam yg sebenarnya seolah olah aku ikut di ayek ayek berada dibelakang mami sambil zikir semampunya unt mengysir anak kecil yg nakal. Pokonya Tdk kalah sana novelis ternama misalnya Mira W atau tere liye lanjutkan mih…

  5. Hmmm, meskipun tanpa gambar atau foto tapi lumayan bikin merinding. Seolah olah ada di sana.

    Hmmm, kalo dikasih fotonya juga malah takut buat bacanya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *